
Foto: Head of Pulse Day Task Force APHRS, Dicky Armein Hanafy
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Pemanfaatan wearable device seperti smartwatch dinilai semakin membantu deteksi dini gangguan irama jantung, termasuk fibrilasi atrium (Atrial Fibrillation/AF). Namun dokter menegaskan, hasil dari perangkat tersebut tetap harus dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis.
Hal itu disampaikan dalam konferensi pers Pulse Day 2026 yang digelar Asia Pacific Heart Rhythm Society (APHRS) bersama Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) di Jakarta.
Head of Pulse Day Task Force APHRS, Dicky Armein Hanafy, mengatakan sebagian besar wearable device saat ini memiliki tingkat akurasi 95–96 persen untuk mendeteksi ketidakteraturan denyut jantung.
“Secara teknologi sudah sangat baik sebagai alat skrining. Tapi ini bukan alat diagnosis final. Tetap harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) oleh dokter,”kata Dicky saat menjawab pertanyaan awak media di Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.
Wearable device umumnya menggunakan teknologi photoplethysmography (PPG) yang membaca perubahan aliran darah melalui sensor cahaya. Beberapa perangkat terbaru juga dilengkapi fitur rekam EKG sederhana dan dukungan kecerdasan buatan (AI) untuk membedakan gangguan irama dengan gangguan sinyal akibat gerakan.
Meski demikian, hasil pembacaan tetap bisa dipengaruhi faktor teknis, seperti posisi alat yang tidak pas atau pergerakan tangan saat perekaman.
“Kalau sinyalnya terganggu, alat bisa membaca irama tidak teratur padahal sebenarnya hanya artefak. Karena itu tetap perlu evaluasi klinis,”ucapnya.
Dokter juga menilai wearable device sangat bermanfaat bagi pasien dengan gangguan irama yang bersifat “on-off”. Pada kondisi ini, gangguan tidak selalu muncul saat pemeriksaan di rumah sakit, sehingga sulit terdeteksi.
“Pasien bisa merekam saat gejala muncul di rumah. Itu membantu dokter menegakkan diagnosis lebih cepat,” tambahnya.
Namun, akses terhadap perangkat ini belum merata. Tidak semua masyarakat mampu membeli smartwatch, dan penggunaannya juga membutuhkan pemahaman teknologi.
Karena itu, kampanye Pulse Day tetap mendorong metode skrining sederhana melalui gerakan MENARI (MEraba NAdi SendiRI), yakni meraba nadi selama 15–30 detik untuk menilai keteraturan irama jantung.
Advisory Board InaHRS, Prof. Yoga Yuniadi, menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat bantu.
“Yang terpenting adalah kesadaran. Mau pakai smartwatch atau meraba nadi manual, tujuannya sama: mendeteksi lebih awal agar stroke bisa dicegah,”ungkapnya.
Dengan kombinasi edukasi publik dan dukungan teknologi, dokter berharap deteksi dini fibrilasi atrium di Indonesia semakin meningkat dan komplikasi berat seperti stroke dapat ditekan.
Editor: Redaksi TVRINews
