Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Aceh
Pascabencana, tantangan yang dihadapi sekolah tidak hanya sebatas kerusakan fisik bangunan, tetapi juga trauma dan kecemasan peserta didik untuk kembali belajar. Dalam kondisi tersebut, pendidikan menjadi ruang penting untuk memulihkan rasa aman anak. Karena itu, proses pembelajaran tetap dijalankan meski dengan berbagai keterbatasan.
Di tengah upaya pemulihan pascabencana, kegiatan belajar-mengajar terus berlangsung melalui berbagai penyesuaian, mulai dari pemanfaatan tenda darurat, penguatan peran guru dan orang tua, hingga dukungan konkret pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, melakukan kunjungan kerja ke Aceh pada 28–30 Januari 2026 untuk meninjau langsung kondisi sekolah terdampak bencana. Dalam kunjungan tersebut, Mendikdasmen meresmikan revitalisasi 76 satuan pendidikan serta berdialog dengan para kepala sekolah guna menyerap kebutuhan sekolah dalam proses pemulihan pembelajaran.
Salah satu sekolah terdampak adalah SDN Karangjadi di Aceh Tengah yang mengalami kerusakan akibat gempa pada akhir Desember 2025. Meski sebagian ruang kelas retak, kegiatan belajar tetap berlangsung.
Kepala SDN Karangjadi, Gazali, menjelaskan bahwa pembelajaran dialihkan ke tenda darurat untuk siswa kelas 1 dan 2, sementara kelas lain tetap belajar di ruang yang dinilai aman.
“Pasca gempa, ada beberapa bangunan yang retak dan dikhawatirkan roboh. Namun pembelajaran tidak kami hentikan. Dua kelas belajar di tenda bantuan Kemendikdasmen, sementara kelas lain tetap di ruang yang aman. Yang terpenting anak-anak tetap datang ke sekolah dan merasa didampingi,” ujar Gazali dalam keterangan tertulis, Minggu, 1 Februari 2026.
Ia menambahkan, keberlanjutan pembelajaran tidak terlepas dari kolaborasi sekolah, guru, dan orang tua. Guru-guru aktif memberikan motivasi, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta memastikan kondisi psikologis siswa tetap terjaga. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu faktor pendukung kehadiran siswa di sekolah.
“Setiap istirahat pertama, siswa mendapatkan MBG dan mereka makan dengan lahap sampai habis,”lanjutnya.
Tantangan serupa juga dihadapi TK Negeri Iwan Tona yang berada di lereng Gunung Merapi. Selain kerusakan bangunan, trauma psikologis anak-anak menjadi perhatian utama. Kepala sekolah, Nova Mulyani, menginisiasi program guru tamu dengan menghadirkan guru-guru dari kecamatan lain secara bergantian untuk menghibur dan mengajar siswa.
“Anak-anak sempat takut masuk kelas. Kami peluk dan bujuk mereka perlahan. MBG juga menjadi pemicu anak-anak mau kembali ke sekolah. Ini bukan hanya soal makanan, tetapi rasa aman dan alasan untuk kembali belajar,” tuturnya.
Sementara itu, SMPM 11 Teritit sempat terisolasi akibat akses jalan terputus selama hampir tiga pekan. Kepala sekolah, Habsah, menyebutkan bahwa pemulihan pembelajaran diawali dengan pendekatan emosional kepada siswa.
“Kami tidak langsung mengejar materi. Yang utama adalah merangkul anak-anak, memvalidasi perasaan mereka, bernyanyi bersama, dan melakukan Senam Anak Indonesia Hebat agar suasana kembali cair dan trauma berkurang,” jelasnya.
Dalam kunjungannya, Mendikdasmen juga menyerahkan school kit kepada siswa serta memberikan motivasi kepada guru dan peserta didik agar tetap semangat menjalani proses pemulihan.
“Ada kelas yang sedang diperbaiki, ada yang dibangun kembali, ada juga yang masih belajar di tenda. Tapi yang terpenting, kita semua harus tetap semangat,” tegas Abdul Mu’ti.
Kemendikdasmen terus mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana pendidikan, termasuk perbaikan ruang kelas, penyediaan mebeler, serta pemenuhan fasilitas pembelajaran yang aman dan layak.
Di tengah keterbatasan pascabencana, praktik pembelajaran di berbagai sekolah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tetap menyala bukan semata karena bangunan telah pulih, tetapi karena anak-anak dijaga, guru hadir sepenuh hati, dan negara berdiri bersama sekolah-sekolahnya.
Editor: Redaktur TVRINews
