Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi iklim di Indonesia pada tahun 2026 cenderung berada dalam kategori normal. Meski demikian, suhu udara rata-rata diperkirakan lebih hangat sekitar 0,2 hingga 0,6 derajat Celsius dibandingkan periode klimatologi 1991–2020.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan hingga November 2025 terpantau anomali suhu muka laut di wilayah Pasifik tengah ekuator yang mengindikasikan terjadinya fenomena La Niña lemah dengan indeks ENSO -0,77. Fenomena tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2026.
“Berdasarkan analisis model fisis dan model iklim berbasis artificial intelligence, kondisi iklim tahun 2026 diprediksi relatif normal, meski suhu udara rata-rata cenderung lebih hangat,” ujar Ardhasena dalam konferensi pers Climate Outlook 2026 di Gedung BMKG, Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Desember 2025.
BMKG menjelaskan, iklim Indonesia sangat dipengaruhi dinamika laut di sekitarnya, terutama Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Saat ini, Indonesia mengalami dua fenomena secara bersamaan, yakni La Niña lemah di Samudra Pasifik serta Indian Ocean Dipole (IOD) negatif di Samudra Hindia. Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan relatif tinggi di sejumlah wilayah Indonesia pada akhir 2025.
Namun, BMKG memprediksi La Niña lemah akan berakhir pada akhir kuartal pertama 2026 dan beralih ke kondisi netral hingga akhir tahun. Sementara itu, IOD juga diperkirakan berada pada fase netral sepanjang 2026, sehingga gangguan iklim akibat anomali laut tidak sekuat kondisi akhir 2025.
Untuk suhu udara, rata-rata tahunan Indonesia pada 2026 diperkirakan berada pada kisaran 25–29 derajat Celsius. Wilayah dataran tinggi seperti Pegunungan Bukit Barisan, Latimojong, dan Jayawijaya diprediksi memiliki suhu lebih rendah, yakni sekitar 19–22 derajat Celsius. Adapun wilayah dengan suhu di atas 28 derajat Celsius berpotensi terjadi di sebagian Sumatera bagian selatan, Kalimantan Tengah dan Timur, pesisir utara Jawa, serta Papua Selatan.
Dari sisi curah hujan tahunan, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi menerima hujan antara 1.500 hingga 4.000 milimeter per tahun. Curah hujan relatif rendah diperkirakan terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Sementara curah hujan tinggi berpotensi terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi bagian tengah, Papua, serta pesisir barat Sumatera.
Secara bulanan, BMKG memprediksi curah hujan menengah hingga tinggi masih mendominasi periode Januari hingga April 2026, terutama di wilayah Jawa dan Sulawesi Selatan. Memasuki Mei hingga September, Indonesia diperkirakan memasuki musim kemarau dengan potensi hujan rendah, khususnya di Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Musim hujan diprediksi kembali terjadi pada Oktober hingga Desember 2026, dengan potensi hujan sangat tinggi di sejumlah wilayah barat Indonesia.
BMKG menekankan, Pandangan Iklim 2026 ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan dan mitigasi risiko oleh berbagai sektor, mulai dari pertanian, perkebunan, kesehatan, energi, hingga kebencanaan. Pemerintah dan pemangku kepentingan diimbau menyesuaikan strategi untuk mengantisipasi potensi banjir, longsor, serta kebakaran hutan dan lahan.
“Informasi ini menjadi panduan umum perencanaan jangka menengah dan panjang. Untuk kebutuhan jangka pendek, masyarakat dapat memantau prediksi curah hujan dasarian dan bulanan yang diperbarui secara berkala melalui kanal resmi BMKG,” tuturnya.
Editor: Redaktur TVRINews
