
dok: Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara (TVRINews/HO-Humas Kementerian Transmigrasi)
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagsra menegaskan bahwa Program Transmigrasi Patriot dirancang sebagai implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus strategi mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi secara berkelanjutan.
Ia mengajak dunia kampus untuk berkolaborasi aktif dalam pembangunan kawasan transmigrasi berbasis data, riset, dan pengabdian masyarakat.
"Saya mengajak seluruh perguruan tinggi untuk berkolaborasi dalam mendukung pembangunan kawasan transmigrasi. Ini bukan sekadar program lapangan, tetapi bagian dari penguatan perencanaan dan kebijakan pembangunan," ujar Iftitah dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Jumat, 27 Februari 2026.
Iftitah menyebut, kelanjutan Program Tim Ekspedisi Patriot menjadi langkah strategis setelah ekspedisi sebelumnya menghasilkan sekitar 400 output. Seluruh hasil tersebut akan ditindaklanjuti menjadi aksi konkret, mulai dari perencanaan hingga implementasi langsung di kawasan transmigrasi.
"Kita akan membahas output dari ekspedisi yang telah dilakukan. Harapannya, seluruh temuan tersebut bisa menjadi dasar kebijakan dan langkah nyata di lapangan," ucapnya.
Menurut Iftitah, hasil ekspedisi juga berperan penting dalam menentukan kelayakan suatu kawasan transmigrasi, baik untuk revitalisasi maupun transformasi kawasan berbasis industrialisasi.
Kawasan dengan potensi ekonomi skala industri akan diarahkan menjadi pusat pengembangan komoditas unggulan berorientasi ekspor.
Saat ini, Kementerian Transmigrasi mengelola sekitar 3,1 juta hektare Hak Pengelolaan Lahan (HPL), dengan sekitar 500 ribu hektare di antaranya masih tersedia dan memiliki potensi ekonomi besar jika dikelola secara optimal.
"Kawasan transmigrasi bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru apabila dirancang dengan baik, didukung industri, investasi, dan konektivitas distribusi," jelasnya.
Pada tahun 2026, Tim Ekspedisi Patriot akan kembali diterjunkan ke 154 kawasan transmigrasi prioritas. Fokusnya tidak hanya pembangunan fisik, tetapi juga percepatan ekosistem ekonomi kawasan, termasuk fasilitas pendidikan, kesehatan, tempat ibadah, serta sarana ekonomi masyarakat.
Iftitah menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa, akademisi, dan tenaga ahli dalam program tersebut untuk memperkuat kapasitas dan kesadaran masyarakat lokal.
"Kehadiran kampus di kawasan transmigrasi diharapkan dapat mempercepat pembangunan kesadaran masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia," tuturnya.
Sejumlah perguruan tinggi mitra menyatakan komitmennya untuk melanjutkan dan memperkuat Program Tim Ekspedisi Patriot sebagai bagian dari sinergi pemerintah dan akademisi dalam mendorong transformasi kawasan transmigrasi menjadi wilayah yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Editor: Redaksi TVRINews
