
Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi di Kantor Kemkomdigi, Rabu (11/3/2026). (Dok. TVRINews/Nisa Alfiani)
Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mendorong pemanfaatan permainan tradisional sebagai salah satu upaya mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai dan media sosial.
Usulan tersebut disampaikan Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi, dalam rapat koordinasi terkait pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak yang berlangsung di Gedung Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurut Arifatul, permainan tradisional memiliki nilai edukatif yang dapat membantu membentuk karakter anak sekaligus menjadi alternatif aktivitas bagi anak di tengah pembatasan penggunaan perangkat digital.
“Permainan tradisional memiliki nilai filosofis yang kuat dalam membangun karakter anak. Di dalamnya ada unsur kebersamaan, sportivitas, dan pembelajaran tentang aturan yang penting bagi perkembangan anak,” ujarnya di Gedung Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.
Ia menilai, maraknya penggunaan gawai tanpa pengawasan yang memadai menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap berbagai persoalan yang dialami anak, termasuk meningkatnya potensi kekerasan maupun paparan konten negatif di ruang digital.
Karena itu, KemenPPPA melalui program Ruang Bersama Indonesia yang berbasis desa berupaya memperkuat peran keluarga dan lingkungan dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Program tersebut juga diharapkan dapat menghidupkan kembali berbagai aktivitas berbasis kearifan lokal di masyarakat.
“Melalui ruang bersama di tingkat desa, kami ingin menghadirkan lingkungan yang aman dan ramah bagi anak, sekaligus mendorong mereka kembali aktif bermain dan berinteraksi secara langsung,” kata Arifatul.
Ia menambahkan, permainan tradisional juga dapat menjadi sarana penanaman nilai-nilai Pancasila karena mengajarkan kerja sama, toleransi, dan sikap saling menghargai di antara anak-anak.
“Dalam permainan tradisional, anak-anak belajar bekerja sama tanpa memandang perbedaan latar belakang. Mereka bermain bersama, berinteraksi, dan membangun persahabatan. Nilai-nilai seperti ini sangat penting untuk memperkuat karakter anak sejak dini,” jelasnya.
KemenPPPA berharap pendekatan berbasis budaya tersebut dapat menjadi salah satu langkah efektif dalam mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai sekaligus memperkuat interaksi sosial di lingkungan masyarakat.
Editor: Redaksi TVRINews
