
dok. Kemendikdasmen
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Pidie Jaya
Pemerintah terus mempercepat pemulihan sarana pendidikan di wilayah terdampak bencana di Aceh. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meninjau langsung pelaksanaan program revitalisasi sekolah di Kabupaten Pidie Jaya, Senin, 9 Maret 2026.
Mu’ti menegaskan, percepatan rekonstruksi fasilitas pendidikan dilakukan agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan aman dan layak bagi para siswa.
“Ini bagian dari upaya kami agar rekonstruksi, khususnya sarana pendidikan di Aceh, bisa diselesaikan lebih cepat,” ujar Mu’ti dalam keterangan tertulis, Selasa, 10 Maret 2026.

Ia menjelaskan, pada 2026 Kemendikdasmen memprioritaskan program Revitalisasi Satuan Pendidikan pada tiga kategori, yaitu sekolah terdampak bencana, sekolah dengan kondisi bangunan rusak berat, serta sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Secara nasional, program revitalisasi tahun 2026 dialokasikan sebesar Rp14 triliun untuk sekitar 11 ribu satuan pendidikan.
Khusus di Kabupaten Pidie Jaya, terdapat 72 sekolah terdampak bencana yang telah menandatangani perjanjian kerja sama program revitalisasi dengan total anggaran Rp86,7 miliar. Sebanyak 62 sekolah dikerjakan secara swakelola, sedangkan 10 sekolah lainnya dibangun oleh TNI AD.
Mu’ti mengatakan, sejumlah sekolah yang telah menandatangani perjanjian kerja sama bahkan sudah mulai memasuki tahap pengerjaan awal. Ia berharap pembangunan dapat selesai secepat mungkin sehingga bisa digunakan pada tahun ajaran baru.
Selain memperbaiki bangunan yang rusak, pemerintah juga menyiapkan penanganan bagi sekolah yang harus direlokasi karena kondisi lokasi yang tidak lagi memungkinkan untuk digunakan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala SD Negeri 8 Meureudu, Martini, mengatakan sekolahnya sempat terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter yang merendam ruang kelas dan perabotan sekolah.
Pada 2026, sekolah tersebut mendapatkan bantuan revitalisasi berupa rehabilitasi 12 ruang kelas. Menurutnya, peninggian bangunan sekolah akan membuat lingkungan belajar lebih aman jika banjir kembali terjadi.
“Dengan peninggian bangunan, kami berharap ke depan lebih aman dan anak-anak bisa belajar dengan tenang,”jelasnya.
Di sisi lain, Kepala SMA Negeri 2 Meureudu, Muhammadiah, menyebut sekolahnya mengalami kerusakan parah akibat banjir hingga ruang kelas tertimbun tanah dan tidak bisa digunakan.
Melalui program revitalisasi 2026, sekolah tersebut akan dibangun kembali di lokasi yang sama dengan anggaran Rp7,9 miliar yang dikerjakan oleh TNI AD.
Pemerintah menargetkan perbaikan sekolah dengan kerusakan ringan hingga sedang dapat selesai pada Juni 2026, sedangkan pembangunan sekolah dengan kerusakan berat atau yang harus direlokasi ditargetkan rampung pada November 2026. Program ini diharapkan mempercepat pemulihan kegiatan belajar mengajar bagi siswa di daerah terdampak bencana.
Editor: Redaksi TVRINews
