
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza saat RDP bersama Komisi VI DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Rabu 4 Februari 2026 (Tangkapan Layar Youtube TVR Parlemen)
Penulis: Rifiana Seldha
TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Republik Indonesia, Faisol Riza, mengungkapkan bahwa industri logam dasar nasional mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang 2025. Indonesia kini tercatat sebagai produsen baja terbesar ke-13 di dunia.
Pernyataan ini disampaikan Faisol saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Mengacu pada data World Steel Association, total produksi baja kasar dunia pada 2025 mencapai 1.849 juta ton, dengan Tiongkok sebagai produsen terbesar yang menyumbang lebih dari separuh produksi global. Sementara itu, Indonesia berhasil memproduksi 19 juta ton baja kasar, naik dibanding 2024 sebesar 18,6 juta ton.
“Kita menempati peringkat ke-13 dunia, dengan produksi baja kasar tahun 2025 sebesar 19 juta ton. Ini naik dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 18,6 juta ton,” jelas Faisol dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).
Faisol menambahkan, industri pengolahan non-migas tumbuh sebesar 5,58 persen, melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,04 persen. Subsektor industri logam dasar mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 18,62 persen.
Ia juga menyoroti kontribusi subsektor logam dasar terhadap investasi nasional. Berdasarkan data Kementerian Investasi dan PKPM, subsektor industri logam dasar, barang logam, serta perlengkapannya mencatat realisasi investasi positif sepanjang Januari–Desember 2025, dengan nilai 14,6 miliar dolar AS, atau sekitar 26 persen dari total investasi penanaman modal asing.
Meski demikian, Faisol mengingatkan konsumsi baja dalam negeri masih sangat bergantung pada sektor konstruksi. Data World Steel Association dan EECA menunjukkan, sektor konstruksi menyerap 77,1 persen konsumsi baja nasional. Menurut Faisol, hal ini menunjukkan industri baja Indonesia masih erat kaitannya dengan pembangunan infrastruktur dan properti.
Rapat RDP bersama Komisi VI DPR RI juga membahas langkah strategis pemerintah dalam memperkuat industri baja nasional, termasuk penyelamatan industri strategis seperti PT Krakatau Steel, serta penguatan kebijakan tata niaga perdagangan.
Hingga berita ini diturunkan, rapat masih berlangsung dengan agenda penyampaian paparan dan pendapat dari masing-masing narasumber.
Editor: Redaksi TVRINews
