
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Ziarah Ke Makam Sastrawan Besar Chairil Anwar di TPU Karet Bivak. (Foto: TVRINews/HO-Kemenbud)
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Selain berziarah, Menbud merencanakan diplomasi budaya dengan menempatkan patung sang penyair di universitas ternama di Moskow atau St. Petersburg.
Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, memperingati Hari Puisi Nasional dengan melakukan ziarah ke makam sastrawan besar Chairil Anwar di TPU Karet Bivak, Jakarta, Selasa, 28 April 2026.
Momentum ini sekaligus menandai rencana besar pemerintah untuk membawa nama Sang Penyair ke kancah internasional melalui seni patung di Rusia.
Kedatangan Menbud Fadli Zon merupakan bentuk penghormatan atas undangan keluarga mendiang, khususnya Evawani Alissa selaku putri tunggal Chairil Anwar.
Menbud menegaskan bahwa Chairil Anwar adalah sosok sentral yang tak tergantikan dalam sejarah sastra Indonesia.
"Chairil Anwar, yang wafat pada usia 27 tahun, telah menghasilkan puluhan puisi yang terus menjadi inspirasi lintas generasi. Beliau adalah pelopor Angkatan '45 yang karyanya tetap hidup meskipun ditulis dalam usia yang singkat," ujar Fadli Zon dalam keterangan yang diterima, Rabu, 29 April 2026.
Diplomasi Budaya: Patung Chairil Anwar di Rusia
Dalam kesempatan tersebut, Menbud mengungkapkan rencana strategis untuk memasang patung Chairil Anwar di Rusia. Langkah ini merupakan bentuk diplomasi budaya resiprokal setelah sebelumnya Rusia menyumbangkan patung Leo Tolstoy ke Universitas Indonesia.
"Nantinya patung tersebut akan ditempatkan di salah satu universitas yang memiliki kajian Bahasa Indonesia, seperti di St. Petersburg atau Moskow," ungkap Menbud.
Momen Haru Pembacaan Puisi
Suasana di TPU Karet Bivak berubah haru saat Menbud Fadli Zon turun langsung membacakan salah satu puisi legendaris karya Chairil Anwar yang berjudul "Yang Terampas dan Yang Putus".
Selain Menbud, sejumlah sastrawan ternama seperti Jose Rizal Manua dan Imam Ma'arif juga turut membacakan sajak-sajak sang maestro. Putri sang penyair, Evawani Alissa, mengaku sangat tersentuh melihat antusiasme masyarakat yang masih begitu besar meski sang ayah telah wafat 77 tahun silam.
"Saya merasa terharu karena setelah 76 tahun (sejak wafatnya), masyarakat masih terus mengenang dan menghormati karya-karya beliau," tutur Evawani.
Investasi Masa Depan Lewat Sastra
Acara peringatan ini dilanjutkan dengan diskusi bertajuk “Apa Pentingnya Chairil Anwar Bagi Indonesia” yang menghadirkan akademisi Universitas Indonesia, Maman Mahayana.
Maman menekankan bahwa inisiatif yang digagas oleh Komunitas Sastra Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) ini merupakan investasi penting bagi masa depan bangsa.
"Chairil Anwar bukan sekadar penyair, melainkan pembentuk identitas budaya Indonesia pasca-kemerdekaan," ujar Maman.
Ziarah dan peringatan ini menjadi pengingat bahwa semangat dan keberanian Chairil Anwar dalam berkarya terus menginspirasi generasi muda untuk merawat bahasa, menyalakan imajinasi, dan berani menyuarakan zamannya.
Turut hadir dalam acara tersebut Staf Khusus Menbud Annisa Rengganis, serta deretan tokoh sastra seperti Nanang R Supriyatin, Kurnia Effendi, hingga Dyah Kencono Puspito Dewi.
Editor: Redaksi TVRINews
