TVRINews, Jakarta
Di balik penyelesaian cepat rupa-rupa krisis domestik dalam 1,5 tahun pertama pemerintahan, terdapat kalkulasi matang berbasis doktrin militer OODA Loop yang dinamis.
Rekam jejak efisiensi birokrasi dan akselerasi kebijakan dalam fase awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto resmi diarsip dalam sebuah diskursus literatur baru. Menginjak usia satu setengah tahun masa jabatan, kepemimpinan nasional diklaim berhasil merumuskan solusi konkret atas 108 persoalan krusial yang mengakar di tataran masyarakat akar rumput.
Manifesto kinerja dan metodologi eksekutif tersebut dibedah secara komprehensif lewat volume bertajuk “Presiden Solusi”. Buku ini merupakan buah pemikiran kolektif dari tiga figur strategis di lingkaran dalam istana: Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari, serta dua Asisten Khusus Presiden, Dirgayuza Setiawan dan Agung Gumilar Saputra.
Dalam forum peluncuran resmi di Jakarta, Dirgayuza Setiawan mengonfirmasi bahwa narasi yang dibangun dalam buku ini melampaui sekadar dokumentasi statistik keberhasilan kuantitatif. Karya ini dirancang sebagai jendela analitis guna memahami kerangka berpikir, filsafat kepemimpinan, serta anatomi pengambilan keputusan strategis sang kepala negara.
Akselerasi masif yang ditunjukkan pemerintah, menurut Dirgayuza, berakar pada prinsip fundamental bahwa pemenuhan hajat hidup publik merupakan prioritas utama yang tidak dapat ditangguhkan oleh hambatan birokratis. Kesejahteraan rakyat diposisikan sebagai urgensi tertinggi yang membutuhkan penanganan waktu nyata (real-time).
"Bapak Presiden kita merasa semua harus di-deliver secepat-cepatnya. Karena rakyat enggak bisa menunggu. Rakyat membutuhkan makan hari ini, rakyat membutuhkan pupuk hari ini, rakyat membutuhkan kemudahan hari ini juga. Sekolah-sekolah perlu di-deliver secepat mungkin," ujar Dirgayuza seperti dikutip dari laporan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Selasa 9 Juni 2026.
Kendati mengutamakan ritme kerja yang dinamis dan serbacepat, laporan tersebut menggarisbawahi bahwa setiap kebijakan tidak dilahirkan dari impulsivitas.

(Asisten Khusus Presiden, Dirgayuza Setiawan secara simbolis menandatangani buku 'Presiden Solusi' (Foto: Bakom RI))
Dirgayuza menguraikan bahwa Presiden Prabowo mengadopsi metodologi Observe, Orient, Decide, and Act (OODA) Loop, sebuah paradigma pengambilan keputusan berkecepatan tinggi yang lazim diimplementasikan dalam strategi militer modern untuk menghadapi situasi yang fluktuatif.
Melalui implementasi siklus OODA, proses perumusan kebijakan diawali dengan pemantauan data empiris secara ketat, orientasi kontekstual terhadap dinamika lapangan, penentuan opsi solusi terbaik, hingga eksekusi taktis yang presisi.
Pendekatan ini menuntut pembuat kebijakan untuk senantiasa adaptif terhadap arus informasi mutakhir tanpa mengabaikan realitas objektif.
"Jadi kami bekerja dengan beliau, setiap hari kami melihat bagaimana beliau sangat mengikuti perkembangan. Dan tidak akhirnya mengubur fakta yang ditutup-tutupi," imbuh Dirgayuza mengenai transparansi data di lingkungan kerja kepresidenan.
Paradoks keheningan seputar metodologi manajerial istana inilah yang mendorong tim penulis mengonversinya menjadi literatur publik. Selama ini, aspek teknis dari efisiensi kepemimpinan tersebut dinilai luput dari lensa pemberitaan media konvensional.
Melengkapi analisis tersebut, Asisten Khusus Presiden Bidang Analisis Data Strategis, Agung Gumilar Saputra, menampik persepsi publik yang kerap mengidentikkan gerak cepat dengan ketergesa-gesaan.
Dalam kesaksiannya, perumusan satu keputusan strategis di tingkat kepresidenan sering kali melewati fase kontemplasi dan penelaahan data yang mendalam, bahkan memakan waktu hingga tiga pekan guna memastikan mitigasi risiko yang sempurna.
"Beliau sudah wise (bijaksana) banget. Beliau memikirkan semua sebelum diputuskan," pungkas Agung, menutup pemaparannya mengenai kedalaman kalkulasi politik kepresidenan.










