
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara pada Kamis, 2 April 2026 memberikan dampak signifikan terhadap warga.
Gempa terjadi di laut pada kedalaman 33 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 422 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 5,8.
Getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah, antara lain Kota Bitung dan Kabupaten Minahasa di Sulawesi Utara, serta Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan, Kabupaten Halmahera Barat, Halmahera Tengah, Halmahera Utara, dan Halmahera Selatan di Maluku Utara.
Dari sisi dampak, di Sulawesi Utara tercatat satu korban meninggal dunia di Kota Manado dan satu orang mengalami luka ringan di Kabupaten Minahasa.
Sementara di Maluku Utara, sebanyak 134 kepala keluarga terdampak di Kota Ternate, 7 kepala keluarga di Halmahera Tengah, 5 kepala keluarga di Halmahera Barat, dan 2 kepala keluarga di Halmahera Selatan. Selain itu, 355 jiwa dilaporkan mengungsi di Kota Tidore Kepulauan.
Hasil kaji cepat sementara menunjukkan, di Sulawesi Utara terdapat satu unit hotel, lima kantor, dan satu fasilitas umum berupa Gedung KONI yang terdampak di Kota Manado. Di Kabupaten Minahasa, tercatat 17 rumah, satu kantor pemerintahan, dua fasilitas ibadah, dan satu akses jalan mengalami kerusakan.
Di Maluku Utara, kerusakan cukup signifikan terjadi di Kota Ternate dengan rincian 32 rumah rusak berat, 36 rusak sedang, dan 66 rusak ringan, serta enam fasilitas ibadah terdampak. Di Kota Tidore Kepulauan terdapat 25 rumah rusak ringan, lima fasilitas ibadah, dan satu fasilitas umum terdampak.
Sementara itu, di Kabupaten Halmahera Selatan tercatat dua rumah rusak sedang serta satu fasilitas pendidikan dan satu jembatan terdampak.
Di Kabupaten Halmahera Tengah terdapat dua rumah rusak berat dan lima rumah rusak sedang. Adapun di Kabupaten Halmahera Barat terdapat lima rumah rusak ringan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di masing-masing wilayah saat ini masih melakukan penanganan darurat di lokasi terdampak.
Menyikapi rangkaian bencana tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah.
Masyarakat yang tinggal di bantaran sungai diminta untuk rutin memantau tinggi muka air serta memperbarui informasi cuaca dari sumber resmi.
Jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, warga diimbau segera melakukan evakuasi mandiri dan memastikan mengetahui jalur evakuasi yang aman.
Editor: Redaksi TVRINews
