
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, memberikan tanggapan terkait dinamika politik nasional dan narasi yang berkembang terkait Presiden Prabowo Subianto. Idrus menekankan bahwa menjaga kondusifitas dalam negeri merupakan prioritas utama yang harus dijaga oleh seluruh elemen bangsa, terutama para elite politik.
Menurut Idrus, situasi dunia saat ini sedang berada dalam ketidakpastian akibat berbagai persoalan geopolitik. Ia berharap ketegangan yang terjadi di tingkat global tidak dibawa ke ranah domestik sehingga memicu perpecahan di masyarakat.
"Apapun masalah yang dihadapi oleh bangsa kita, apapun masalah yang terjadi di luar sana, ya dengan geopolitik dan lain sebagainya, jangan karena di luar perang lalu kemudian di sini juga memicu peperangan di antara kita. Ini tidak boleh terjadi. Justru dalam kondisi kehidupan dunia seperti sekarang ini, menuntut adanya soliditas antara kita bersama. Menuntut adanya satu kesadaran kita bersama menciptakan situasi kondusif. Karena bagaimanapun dalam kondisi seperti ini, diperlukan ya satu stabilitas politik, ya diperlukan satu stabilitas nasional," ujar Idrus Marham, Senin 6 April 2026.
Pada kesempatan tersebut, Ia turut meminta agar para tokoh politik dan pengamat untuk menghentikan wacana kosong yang hanya memicu perdebatan tak berujung tanpa solusi konkret. Ia menekankan, sebagai pemimpin, Prabowo tentu sudah memiliki kalkulasi politik dan strategi yang matang untuk memimpin Indonesia.
Idrus menyarankan, jika ada masukan atau kritik, sebaiknya disampaikan melalui saluran yang tepat dengan argumen yang kuat, bukan dengan menciptakan opini publik yang menyudutkan. Ia mengajak semua pihak untuk memberikan kesempatan kepada pemerintahan yang baru untuk bekerja.
"Saya kira waktunya sudah selesai untuk berwacana yang macam-macam, membandingkan ini, membandingkan itu, lalu membuat ramalan-ramalan yang menakutkan, apalagi sampai membenturkan antara Pak Prabowo dengan kenyataan yang dihadapi bangsa ini. Itu tidak baik," ujarnya.
Ia menambahkan, narasi yang tidak utuh dan multitafsir berpotensi memicu polarisasi di masyarakat, terutama di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
“Indonesia tidak boleh masuk ke jebakan instabilitas akibat narasi kontraproduktif yang tidak bertanggung jawab,” pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews
