
Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan kenaikan harga minyak dunia berpotensi mendorong defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melampaui batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Hal tersebut disampaikan Airlangga dalam sidang kabinet paripurna yang dipimpin Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026.
Airlangga menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario terkait pergerakan harga minyak dunia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang dipengaruhi situasi geopolitik global.
Pada skenario pertama, jika harga minyak berada di kisaran rata-rata 86 dolar AS per barel dengan asumsi nilai tukar rupiah Rp17.000 per dolar AS dan pertumbuhan ekonomi tetap di 5,3 persen, maka defisit APBN diperkirakan mencapai sekitar 3,18 persen.
Sementara pada skenario moderat dengan harga minyak rata-rata 97 dolar AS per barel, nilai tukar rupiah Rp17.300 per dolar AS, serta pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, defisit APBN berpotensi meningkat hingga 3,53 persen.
Adapun dalam skenario terburuk, jika harga minyak menembus rata-rata 115 dolar AS per barel dan nilai tukar rupiah berada di level Rp17.500 per dolar AS, defisit anggaran diperkirakan bisa mencapai 4,06 persen.
"Artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan," ujar Airlangga, dikutip dari Tayangan YouTube Sekretariat Presiden, Jumat, 13 Maret 2026.
Editor: Redaksi TVRINews
