
dok. Kemenkes
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Octavianus, menegaskan pentingnya percepatan implementasi program penanggulangan Tuberkulosis (TB) melalui langkah yang lebih terukur, kolaboratif, dan berdampak.
Hal tersebut disampaikan dalam Pertemuan Koordinasi dan Penguatan Implementasi Program Tuberkulosis Tahun 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
TB Masih Jadi Tantangan Besar
Dalam sambutannya, Wamenkes menekankan bahwa TB masih menjadi persoalan kesehatan serius, baik di tingkat global maupun nasional. Indonesia sendiri masih termasuk negara dengan beban kasus TB yang tinggi di dunia.
Karena itu, ia menilai diperlukan upaya luar biasa dan sinergi lintas sektor untuk mempercepat penanganan penyakit tersebut.
“Penanggulangan TB harus menjadi prioritas bersama dengan kerja nyata dan kepemimpinan yang kuat di semua tingkatan,”kata Wamenkes Benjamin dalam keterangan tertulis, Jumat, 24 April 2026.
Capaian Program Masih Hadapi Kendala
Wamenkes mengungkapkan, berbagai indikator program TB pada awal 2026 masih menghadapi tantangan, mulai dari penemuan kasus, keberhasilan pengobatan, investigasi kontak, hingga pelaksanaan terapi pencegahan.
Menurutnya, kondisi ini harus direspons dengan langkah yang lebih cepat dan terarah.
“Situasi ini perlu dijawab dengan pendekatan yang lebih terukur dan berdampak,” tegasnya.
Dorong Penemuan Kasus Aktif
Dalam arahannya, Wamenkes menekankan pentingnya penguatan penemuan kasus secara aktif, termasuk melalui skrining kelompok berisiko dan investigasi kontak erat.
Ia juga mengingatkan agar pasien TB menjalani pengobatan hingga tuntas guna mencegah resistensi obat.
“Jangan menunggu pasien datang. Kita harus aktif menemukan kasus di lapangan,” jelasnya.
Perkuat Pencegahan dan Dukungan Komunitas
Selain pengobatan, upaya pencegahan juga menjadi fokus utama. Wamenkes mendorong percepatan pemberian terapi pencegahan, khususnya bagi kontak serumah, anak-anak, dan kelompok rentan.
Ia juga menekankan pentingnya peran komunitas dalam mendampingi pasien agar tidak putus pengobatan.
Kolaborasi dan Data Jadi Kunci
Wamenkes turut menyoroti pentingnya pemanfaatan data yang akurat dan real time sebagai dasar pengambilan kebijakan.
Selain itu, ia menegaskan bahwa eliminasi TB tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja, melainkan membutuhkan kolaborasi luas dari pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, hingga mitra pembangunan.
Optimistis Target Eliminasi 2030
Menutup sambutannya, Wamenkes menyampaikan optimisme bahwa target eliminasi TB pada 2030 dapat tercapai jika seluruh pihak bekerja secara konsisten dan terkoordinasi.
“Target ini memang tidak mudah, tetapi sangat mungkin dicapai jika kita bergerak bersama,”tuturnya.
Editor: Redaksi TVRINews
