
Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar (Dok. Kemenag RI)
Penulis: Rifiana Seldha
TVRINews, Jakarta
Menteri Agama RI (Menag), Nasaruddin Umar, memaparkan konsep ketahanan mental (resilience) dari sudut pandang tasawuf. Menag menekankan bahwa kesehatan dan kedamaian batin sejati tercapai ketika seseorang mampu melampaui dualitas antara kesenangan dan penderitaan.
Menag menjelaskan bahwa dalam tingkatan spiritual tertentu, jarak antara ujian dan kenikmatan akan menyempit hingga tidak ada lagi perbedaan yang nyata di antara keduanya. Konsep ini ia bagikan saat mengisi kajian di Thareqat Almuhammadiyyah Alyunusiyyah Al-Idrisiyah, di Makassar.
"Bagi orang yang beriman, tidak ada lagi bedanya antara penderitaan dan kenikmatan. Semakin menganga jarak antara keduanya bagi orang awam, namun (jarak itu) menyempit bagi mereka yang paham. Di mata orang yang sudah fana (larut dalam kehendak Tuhan), semuanya sama," ujar Menag Nasaruddin Umar
Menurut Menag, ketahanan mental seseorang yang beriman dibangun dengan cara memahami bahwa segala sesuatu di alam semesta ini diciptakan secara berpasangan untuk menciptakan keseimbangan. Nasaruddin Umar mencontohkan keberadaan siang dan malam sebagai analoginya untuk memahami hakikat cahaya.
"Tanpa adanya siang, kita tidak tahu apa itu malam. Tanpa adanya malam, tidak mungkin kita tahu hakikat cahaya. Bahkan, kita tahu adanya surga karena ada neraka. Begitu pula dalam hidup, makna kebaikan seringkali baru bisa kita pahami melalui adanya keburukan atau ujian," tambahnya lebih lanjut.
Menag mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang dalam menghadapi setiap dinamika kehidupan dengan menerapkan bahwa ketenangan batin tidak bergantung pada situasi eksternal, melainkan pada bagaimana hati memproses atau merespons situasi yang terjadi.
"Cara pandang kita itu sangat menentukan. Jika kita melihat segala sesuatu sebagai manifestasi dari kehendak Sang Pencipta, maka tidak ada lagi alasan untuk merasa terpuruk secara berlebihan. Semuanya adalah bagian dari jalan menuju pengenalan diri dan Tuhan," imbuhnya.
Menteri Agama berpesan agar umat Islam menyambut Ramadan dengan kesiapan rohani yang matang. Yakni, dengan memfokuskan tujuan ibadah hanya kepada Allah SWT, bukan sekadar mengejar fenomena-fenomena spiritual semata.
Editor: Redaksi TVRINews
