
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Amerika Serikat
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) Rosan Roeslani menegaskan kerja sama sektor tekstil dengan Pan Brothers tidak berkaitan dengan praktik thrifting atau perdagangan pakaian bekas.
Rosan menjelaskan kerja sama tersebut berada pada ranah manufaktur, yakni proses produksi tekstil berbasis bahan baku baru maupun material daur ulang.
“Kalau Pan Brothers itu manufacturing, jadi manufacturing itu bukan thrifting. Manufacturing adalah memproses baik berbasis cotton ataupun poliester recycle,” ujar Rosan dalam keterangan pers secara daring yang dikutip oleh tvrinews.com, Jumat, 20 Februari 2026.
Penegasan tersebut disampaikan di tengah fase baru hubungan dagang Indonesia dan Amerika Serikat setelah Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump meresmikan kesepakatan pembebasan tarif bea masuk bagi ribuan produk ekspor.
Kesepakatan itu tertuang dalam dokumen Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance.
Menteri Koordinator Bidang Pereknomian Airlangga Hartarto sebelumnya menjelaskan sedikitnya 1.819 pos tarif produk Indonesia kini memperoleh fasilitas tarif 0 persen di pasar Amerika Serikat.
Selain itu, Amerika Serikat juga memberikan skema khusus berupa Tariff Rate Quota (TRQ) untuk sektor tekstil dan pakaian jadi Indonesia.
Kebijakan tersebut dinilai strategis karena industri tekstil dan produk tekstil merupakan salah satu sektor padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja di dalam negeri.
Sebagai bagian dari kemitraan timbal balik, Indonesia juga memberikan fasilitas tarif nol persen bagi sejumlah produk unggulan Amerika Serikat, termasuk gandum dan kedelai.
Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas harga bahan baku pangan di pasar domestik sekaligus memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
Editor: Redaktur TVRINews
