
dok. Kemendikdasmen
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Banten
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP berlangsung lancar dan kredibel. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, saat meninjau hari pertama pelaksanaan TKA di SMP Negeri 2 Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin, 6 April 2026.
Mendikdasmen menyampaikan bahwa secara umum kesiapan pelaksanaan TKA di sekolah telah berjalan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Penataan teknis mulai dari ruang ujian hingga mekanisme pelaksanaan dinilai telah dipersiapkan dengan baik.
“Kesiapan kelas dan penataan teknis sudah sesuai dengan ketentuan. Kita berharap pelaksanaan TKA ini dapat berjalan dengan lancar,” ujar Mu’ti dalam keterangan tertulis, Senin, 6 April 2026.
Ia menegaskan bahwa TKA bukan merupakan penentu kelulusan murid. Penentuan kelulusan tetap menjadi kewenangan masing-masing satuan pendidikan. Menurutnya, TKA berfungsi sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan akademik siswa, khususnya literasi dan numerasi, serta dilengkapi dengan survei karakter dan lingkungan belajar.
“Melalui TKA, kita ingin memperoleh profil kemampuan murid yang lebih komprehensif, baik dari sisi akademik maupun karakter. Data ini nantinya menjadi salah satu referensi dalam proses sistem penerimaan murid baru melalui jalur domisili, prestasi, maupun afirmasi,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mendikdasmen juga mengingatkan pentingnya integritas dalam pelaksanaan TKA melalui jargon “Jujur dan Gembira”. Ia mengimbau para siswa untuk mengikuti tes dengan jujur dan penuh semangat, serta tidak menjadikan TKA sebagai beban.
“Kerjakan dengan jujur dan gembira, karena ini adalah bagian dari proses, bukan akhir. Selain itu, kami juga mengimbau para pengawas untuk menjalankan tugas secara profesional, tanpa melakukan dokumentasi yang tidak perlu seperti membuat video atau memperbarui status selama pelaksanaan,” tegasnya.
Untuk memastikan pelaksanaan yang kredibel, Kemendikdasmen telah menyiapkan berbagai sistem pencegahan kecurangan. Proteksi teknis dirancang sejak awal agar proses asesmen berjalan transparan dan akuntabel.
Secara nasional, pelaksanaan TKA pada hari pertama mencapai sekitar 98 persen dari target peserta, sementara sekitar 2 persen siswa belum mengikuti TKA karena berbagai alasan, seperti kesiapan psikologis maupun pertimbangan orang tua. Di SMP Negeri 2 Curug, tingkat partisipasi peserta tercatat mencapai 100 persen.
Mendikdasmen juga menjelaskan bahwa TKA dirancang sebagai sistem “lima dalam satu” yang mampu menghasilkan lima jenis data pendidikan sekaligus, meliputi kemampuan akademik, literasi, numerasi, karakter, serta kondisi lingkungan belajar.
“TKA ini dirancang sebagai sistem five in one, sehingga kita bisa mendapatkan lima jenis data pendidikan sekaligus yang nantinya menjadi dasar perumusan kebijakan pendidikan,”ucapnya.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan TKA di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) telah diantisipasi dengan skema yang fleksibel. Pelaksanaan tidak sepenuhnya berbasis daring sehingga sekolah dengan keterbatasan perangkat tetap dapat melaksanakan asesmen, termasuk melalui skema berbagi fasilitas dengan sekolah lain.
“Untuk daerah 3T, pelaksanaan tidak sepenuhnya daring. Bisa berbagi fasilitas dengan sekolah lain agar semua siswa tetap bisa mengikuti TKA,”lanjutnya.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 2 Curug, Purwaningsih, menyampaikan bahwa pelaksanaan hari pertama TKA di sekolahnya berjalan lancar tanpa kendala teknis. Sekolah menggunakan tiga ruang ujian dengan masing-masing sekitar 20 peserta atau total 60 siswa per sesi, dan pelaksanaan dilakukan dalam tiga sesi.
“Alhamdulillah pada sesi pertama berjalan lancar. Tidak ada kendala, jaringan berjalan baik dan token juga keluar sesuai waktu yang ditetapkan. Mudah-mudahan sampai hari terakhir tetap lancar,”ungkap Purwaningsih.
Ia menambahkan bahwa sekolah hanya mendorong siswa untuk membiasakan diri dengan karakter soal TKA tanpa bimbingan khusus agar siswa dapat beradaptasi secara mandiri.
“Kami hanya mengimbau siswa untuk membiasakan diri dengan soal-soal TKA. Guru juga mulai menyusun soal serupa agar siswa terbiasa,”tambahnya.
Salah satu siswa, Heiba Anindya, mengaku sempat merasa gugup karena TKA merupakan pengalaman baru, namun tetap antusias mengikuti tes.
“Jujur awalnya takut dan deg-degan, karena ini pengalaman baru bagi kami. Tapi saya juga penasaran dengan soal-soalnya,”kata Heiba.
Ia mengatakan telah mempersiapkan diri sejak beberapa bulan lalu dan meningkatkan intensitas belajar menjelang pelaksanaan. Dukungan orang tua juga menjadi faktor penting dalam persiapannya.
“Saya mulai belajar dari bulan Desember secara bertahap. Tapi seminggu terakhir sebelum TKA, saya lebih intens belajar untuk memaksimalkan persiapan. Orang tua juga sangat mendukung,”jelasnya.
Meski TKA tidak menentukan kelulusan, Heiba mengaku tetap ingin memberikan hasil terbaik.
“Walaupun TKA tidak menentukan lulus atau tidak, saya tetap ingin memberikan yang terbaik dan mendapatkan hasil maksimal,”tuturnya.
Editor: Redaktur TVRINews
