
Menteri PU Prioritaskan Percepatan Sekolah Rakyat Aceh Pascabencana
Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memastikan percepatan pembangunan Sekolah Rakyat (SR) Tahap II di Provinsi Aceh menjadi prioritas utama pemerintah dalam pemulihan pascabencana banjir bandang. Ia menegaskan bahwa sekolah bukan hanya fasilitas pendidikan, tetapi bagian penting dari proses pulihnya kehidupan masyarakat.
Menurut Menteri Dody, pembangunan Sekolah Rakyat merupakan instrumen strategis pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan jangka panjang di daerah terdampak bencana.
“Pemerintah tidak boleh hanya memperbaiki jalan dan jembatan setelah bencana. Kita harus memperbaiki masa depan. Dan masa depan itu ada di ruang-ruang kelas yang layak dan aman untuk anak-anak,” ucapnya dlaam keterangan tertulis yang dikutip, Sabtu (31/1/2026).
Pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II di Aceh dikerjakan dalam dua paket besar SR Aceh 1 dan SR Aceh 2 dengan total kontrak sekitar Rp1,53 triliun. Proyek ini mulai berjalan pada akhir 2025 dengan masa pelaksanaan 240 hari kalender.
Menteri Dody menekankan bahwa percepatan bukan sekadar tuntutan pekerjaan, tetapi komitmen moral negara untuk memastikan anak-anak Aceh kembali belajar tanpa hambatan.
“Kami ingin ruang belajar yang tidak sekadar berdiri, tetapi benar-benar kokoh, tahan bencana, dan memberi rasa aman. Karena anak-anak yang hidup di daerah rawan bencana berhak mendapatkan kualitas pendidikan yang sama dengan daerah lain,” ujar Dody.
Hingga akhir Januari 2026, progres fisik SR Aceh 1 telah mencapai 2,81%, sedangkan SR Aceh 2 mencapai 1,70%. Pembangunan dilaksanakan oleh BUMN karya, yakni PT PP–WIKA (KSO) untuk paket 1 dan PT Waskita Karya untuk paket 2, di bawah koordinasi Satker Pelaksanaan Prasarana Strategis Aceh.
Menteri PU menjelaskan bahwa sekolah-sekolah yang dibangun bukanlah gedung konvensional, melainkan kawasan pendidikan terpadu. Setiap sekolah dilengkapi asrama siswa dan guru, laboratorium keterampilan, ruang kelas berbasis teknologi, perpustakaan modern, pusat pembelajaran digital, hingga fasilitas kesehatan dan olahraga.
“Ini bukan sekadar bangunan fisik. Ini adalah kampus kecil untuk anak-anak Aceh. Tempat di mana mereka bisa belajar, berlatih, dan bermimpi lebih besar,” ucapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya desain bangunan yang mengedepankan mitigasi risiko bencana.
“Setiap struktur harus tahan terhadap kondisi ekstrem. Kita tidak boleh mengulangi kerentanan yang sama. Bangunan sekolah harus melindungi, bukan menambah risiko,” tegasnya.
Pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II merupakan kelanjutan Tahap I yang telah menuntaskan 164 sekolah rintisan pada 2025. Program ini kini diperluas ke 104 lokasi di 32 provinsi, dengan target menampung 112.320 siswa pada tahun ajaran 2026/2027.
Menteri Dody memastikan bahwa pihaknya terus memonitor pelaksanaan konstruksi di seluruh daerah.
“Saya ingin memastikan seluruh sekolah ini selesai tepat waktu. Kita ingin anak-anak masuk ke ruang kelas baru pada tahun ajaran 2026/2027 tanpa harus menunggu lebih lama,” katanya.
Menutup pernyataannya, Menteri PU menegaskan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat merupakan simbol hadirnya negara dalam masa-masa sulit masyarakat.
“Membangun sekolah adalah membangun kembali harapan. Dan harapan itu harus hadir secepat mungkin untuk masyarakat Aceh,” pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews
