
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Semarang
BNPB melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai bagian dari penanganan darurat banjir dan tanah longsor di wilayah Muria Raya, Jawa Tengah. Operasi dimulai Kamis, 15 Januari 2026, dan dipusatkan di Lanud Ahmad Yani, Kota Semarang.
Satu unit pesawat Caravan dengan registrasi PK-SNP telah melakukan penyemaian awan pertama pada pukul 06.00 WIB. Target penyemaian berada di perairan utara Semarang guna mereduksi curah hujan yang masih tinggi di wilayah terdampak, khususnya Kabupaten Pati, Kudus, dan Jepara.
Selain OMC, BNPB juga mengerahkan tim reaksi cepat (TRC) ke tiga kabupaten tersebut. Tim yang dipimpin Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB Agus Riyanto melakukan asesmen lapangan sebagai dasar penyusunan langkah penanganan darurat lanjutan.
Banjir dan longsor melanda wilayah Muria Raya sejak Jumat, 9 Januari 2026, akibat hujan berintensitas tinggi yang berlangsung sepanjang hari. Peningkatan debit sungai secara cepat menyebabkan sejumlah tanggul jebol dan merendam permukiman warga.
Di Kabupaten Kudus, bencana banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem terjadi di sembilan kecamatan. Tercatat 127 titik longsor yang tersebar di 14 desa pada tiga kecamatan, yakni Bae, Dawe, dan Gebog.
Sebanyak 1.115 jiwa terdampak, satu orang meninggal dunia, dan 164 warga mengungsi. Kerusakan meliputi 32 rumah rusak sedang, satu gedung rusak berat, serta satu fasilitas umum rusak ringan.
Banjir juga melanda enam kecamatan lain di Kudus, yaitu Mejobo, Kota, Jekulo, Bae, Kaliwungu, dan Jati. Luapan Sungai Piji merendam permukiman dengan ketinggian air 30 hingga 100 sentimeter.
Sebanyak 15.284 kepala keluarga atau 48.190 jiwa terdampak, dengan dua orang meninggal dunia. Banjir berdampak pada 12.528 rumah, sembilan fasilitas ibadah, lima fasilitas pendidikan, serta 2.735,44 hektare lahan persawahan.
Kabupaten Jepara turut mengalami banjir dan longsor. Banjir merendam sejumlah desa di Kecamatan Mayong dengan ketinggian air rata-rata 50–60 sentimeter. BPBD setempat masih melakukan pendataan dampak dan kerugian.
Tanah longsor terjadi di Kecamatan Pakisaji, Keling, dan Nalumsari, berdampak pada 3.642 jiwa, dengan lima warga mengungsi. Material longsor sempat memutus akses jalan dan menghambat distribusi logistik ke Desa Tempur, yang dilakukan secara estafet menggunakan kendaraan roda dua.
Sementara itu, di Kabupaten Pati, banjir dan longsor melanda 84 desa di 17 kecamatan. Sebanyak 3.000 kepala keluarga terdampak dan 380 warga mengungsi.
Kerusakan rumah meliputi empat unit rusak berat, satu rusak sedang, dan dua rusak ringan. Kerusakan infrastruktur mencakup fasilitas ibadah, fasilitas pendidikan, akses jalan, talud, tanggul, jembatan, bendung, serta lebih dari 900 hektare lahan pertanian terdampak.
Pemerintah Kabupaten Kudus menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, terhitung 12–19 Januari 2026. Sementara itu, Kabupaten Jepara dan Pati masih menetapkan status siaga darurat banjir dan longsor.
BNPB memastikan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak menjadi prioritas, baik bagi pengungsi terpusat maupun mandiri. Bantuan logistik dan peralatan telah disalurkan, antara lain paket sembako, terpal, karung pasir, peralatan kebersihan, dan pompa air.
Berdasarkan hasil asesmen, kebutuhan mendesak saat ini meliputi pompanisasi genangan, normalisasi aliran air dari lumpur dan sampah, serta dukungan alat berat untuk pembersihan longsoran dan pembukaan akses jalan.
BNPB juga mengimbau masyarakat tetap waspada, mengingat prakiraan BMKG menunjukkan potensi hujan sedang hingga lebat masih berlanjut di wilayah Muria Raya.
Editor: Redaktur TVRINews
