
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Pemerhati Jakarta, Zulfikar Marikar, menilai sterilisasi jalur Transjakarta perlu segera dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan transportasi publik di Ibu Kota.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, jumlah penumpang Transjakarta pada Desember 2025 tercatat mencapai 37,46 juta orang. Sepanjang tahun 2025, layanan ini melayani sekitar 413 juta penumpang atau tumbuh 11 persen secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 372 juta penumpang. Rata-rata pengguna Transjakarta tercatat lebih dari satu juta pelanggan per hari.
Sementara itu, pada Januari 2026 jumlah pelanggan mencapai 35,36 juta orang, meningkat dibandingkan Januari 2025 yang tercatat sebesar 32,1 juta penumpang.
“Dengan volume pengguna sebesar itu, Transjakarta harus mendapatkan prioritas dalam aspek kecepatan dan ketepatan waktu,” ujar Zulfikar dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, Rabu, 25 Februari 2026.
Ia menilai peningkatan jumlah penumpang tidak terlepas dari dorongan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno, termasuk program “Rabu Wajib Transportasi Umum” bagi aparatur sipil negara (ASN).
Namun, Zulfikar menyoroti masih adanya sejumlah koridor yang jalurnya bersama (mixed traffic) bercampur dengan kendaraan umum maupun pribadi. Padahal, sebagai sistem Bus Rapid Transit (BRT), Transjakarta mensyaratkan jalur eksklusif agar bus dapat bergerak cepat dan konsisten.
“Ketika jalur tidak steril, risiko kecelakaan meningkat, waktu tempuh tidak pasti, dan jadwal terganggu. Ini mengurangi efektivitas BRT sebagai alternatif kendaraan pribadi,” ucapnya.
Karena itu, ia mendorong pemasangan separator permanen di seluruh koridor Transjakarta guna memastikan jalur khusus benar-benar digunakan secara eksklusif. Menurutnya, meski membutuhkan pembiayaan dan penataan ulang lalu lintas, langkah tersebut penting untuk meningkatkan keandalan layanan serta menekan dampak kemacetan dan emisi.
“Sterilisasi jalur bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar Transjakarta semakin optimal sebagai tulang punggung mobilitas warga,” tutur Zulfikar.
Editor: Redaksi TVRINews
