Penulis: Bambang Putra Niko
TVRI News, Pesisir Selatan
Sejumlah nelayan pukat tradisional di Nagari Pulau Karam Ampang Pulai Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat terpaksa berhenti melaut untuk sementara waktu. Hal ini dipicu kawasan pantai di Muaro Bantiang di nagari setempat terdampak abrasi dan banyaknya pohon pinus yang tumbang dan belum dibersihkan.
Sejak dilanda abrasi pohon pinus yang tumbang di kawasan pantai Muaro Bantiang Nagari, Pulau Karam Ampang Pulai masih berserakan. Puluhan batang pinus yang berukuran besar dan panjang ini melintang di pinggir pantai dan belum dibersihkan, sehingga kondisi tersebut mengganggu aktivitas nelayan untuk menangkap ikan menggunakan pukat jaring tradisional.
“Akibat abrasi mereka sudah empat hari berhenti melaut ditambah dengan kondisi gelombang pasang yang masih besar juga membuat nelayan memutuskan untuk berhenti melaut sementara waktu papar”salah seorang nelayan Darmawi, Senin, 10 Juli 2023.
Para nelayan harus bersabar menunggu kondisi cuaca normal dan pohon pinus yang tumbang dibersihkan secara bersama-sama untuk upaya pembersihan material masyarakat tidak mampu melakukan hanya dengan menggunakan tenaga manusia seadanya namun membutuhkan mesin senso untuk memotong kayu tersebut.
Dari pantauan di lapangan sebagian material kayu yang tumbang juga telah terbawa arus ombak.
Masyarakat setempat akan melaksanakan gotong royong untuk membersihkan pohon pinus yang tumbang setelah upaya pembersihan selesai, para nelayan pukat tradisional nantinya dapat beraktivitas kembali melaut menarik pukat di sekitar bibir pantai.
Baca juga: Mahasiswi Tega Bunuh Bayi Kandungnya Sendiri Resmi Ditahan Polisi
Editor: Redaktur TVRINews
