
Kilas Balik Kedatangan Paus Yohanes Paulus II ke Jakarta
Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Beberapa hari kedepan, warga Jakarta akan kedatangan pemimpin Katolik dunia, Paus Fransiskus dalam kunjungan Apostolik dan kunjungan kenegaraan ke Indonesia.
Jejak kedatangan Sri Paus ke Indonesia bukan pertama kalinya, sebelumnya Indonesia pernah kedatangan Paus Paulus VI pada tahun 1970, dan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989.
9 Oktober 1989, umat Katolik di Indonesia bersuka cita karena kedatangan pemimpinnya, Paus Yohanes Paulus II. Sri Paus mengunjungi Indonesia, usai mengunjungi umat Katolik di Korea Selatan.
Upacara Kenegaraan menyambutnya di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta. Selesai menuruni tangga pesawat yang membawanya dari Seoul, Paus langsung mencium tanah, sebagai tanda hormat dan cinta kepada negara yang dikunjungi. Ia langsung disambut Menteri Luar Negeri saat itu Ali Alatas beserta istri, untuk selanjutnya menuju Istana Merdeka bertemu Presiden Soeharto.
Paus Yohanes Paulus II yang saat itu berusia 69 tahun, disambut Upacara Kenegaraan di Istana Merdeka dengan dentuman meriam 21 kali. Kemudian bersama Presiden Soeharto Paus memeriksa barisan pasukan di Istana Merdeka. Selanjutnya, keduanya bertemu didalam Istana Merdeka dalam rangkaian acara kunjungan kehormatan di Ruang Jepara.
Keduanya saling bertukar pikiran mengenai keadilan dan perdamaian dunia. Paus Yohanes Paulus II bahkan terkesan dan memuji Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia. Sri Paus menekankan pentingnya suatu bangsa mempunyai pandangan hidup dan dasar falsafah negara.
Presiden Soeharto juga dalam pidato penyambutannya mengatakan bahwa kedatangan PAUS Yohanes Paulus II mempunyai arti penting, tidak hanya untuk meningkatkan iman umat Katolik, tetapi juga merupakan bagian dari pembinaan umat beragama di Indonesia.
Untuk menghadiri agenda yang padat, Sri Paus tak menginap di Wisma Negara, yang terletak di Kompleks Istana. Beliau memilih menginap di Kedutaan Besar Vatikan, sebuah bangunan dan kantor kecil, di Jalan Merdeka Timur. Menginap di kedutaan negaranya adalah kebiasaan Sri Paus.
Agenda selanjutnya setelah bertemu Presiden Soeharto, Paus Yohanes Paulus II langsung menuju Stadion Utama Senayan. Sri Paus Mengenakan jubah warna kuning muda dan topi kecil atau soli deo. Turun dari mobil, Sri Paus disambut dengan kalungan bunga kuning putih dari sepasang anak kecil. Sri Paus juga melepaskan tujuh pasang "merpati perdamaian dunia", berwarna kuning-putih-merah.
Di dalam stadion Sri paus berkesempatan keliling stadion menyapa jemaat dengan mobil terbuka. Beliau pun disambut sekitar 120 ribu umat Katolik Jakarta, Jawa Barat, Lampung, Dan Sumatera Selatan. tepuk tangan dan lambaian bendera bergambar lambang takhta suci Vatikan dan Paus Yohanes Paulus II gegap gempita mewarnai acara keliling yang berlangsung sekitar 15 menit.
Upacara Keagamaan, berupa Misa Agung, dipimpin oleh Sri Paus menggunakan Bahasa Indonesia. Perhelatan besar umat Katolik Jakarta ini terasa khidmat dan penuh kegembiraan. Stadion Utama Senayan, yang kini menjadi Stadion Utama Gelora Bung Karno, seperti Gereja raksasa.
Lebih dari 100 ribu jemaat khidmad berdoa, tidak ada lagi sorak sorai orang seperti saat pertandingan sepak bola, kampanye, konser musik atau acara lainnya. Semua larut dalam satu suasana penuh doa yang khidmad dan aman.
Pada kesempatan itu, selain menyampaikan pesan perdamaian, Sri Paus juga mengingatkan kepada seluruh umat Katolik Indonesia melakukan kewajiban sebagai warga negara, di samping memberikan kepada tuhan, apa yang wajib diberikan kepada-nya.
Editor: Redaktur TVRINews
