
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon bersama Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria. (Foto: TVRINews/HO-Kemenbud)
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon bersama Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria membahas penguatan kolaborasi dalam mengoptimalkan aset budaya nasional sebagai penggerak ekonomi kreatif.
Fadli Zon menekankan pentingnya menjadikan aset budaya sebagai living heritage yang memberi manfaat ekonomi, sosial, dan budaya secara berkelanjutan.
"Aset budaya Indonesia harus menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat luas bagi negara dan masyarakat," kata Fadli Zon dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa, 24 Februari 2026.
Ia menyebutkan pengembangan kerja sama akan mencakup kawasan Borobudur, Candi Prambanan, Ratu Boko, dan Candi Palosan, dengan dukungan InJourney dan entitas Danantara untuk memperkuat tata kelola dan daya tarik destinasi.
"Pemerintah telah meningkatkan fasilitas umum di berbagai kawasan cagar budaya, dan ke depan diharapkan kolaborasi dengan InJourney serta entitas di bawah Danantara dapat memperkuat tata kelola dan daya tarik destinasi tersebut," ujarnya.
Selain pengelolaan cagar budaya, Fadli Zon menyoroti partisipasi Indonesia di Venice Biennale 2026. Indonesia akan mengirim tujuh seniman untuk residensi dan tujuh seniman kolaborasi lintas nasional, dengan target memiliki paviliun sendiri dalam dua tahun ke depan.
“Venice Biennale adalah etalase dunia. Semua negara memiliki paviliun. Indonesia harus hadir. Ini bukan sekadar pameran, tetapi bagian dari cultural economy karena terjadi banyak transaksi keuangan dan eksposur internasional,” katanya.
Menteri Kebudayaan juga menyinggung penguatan ekosistem perfilman nasional. Dengan sekitar 2.500 layar bioskop saat ini, kebutuhan ideal mencapai 10.000 layar.
Ia membuka peluang kolaborasi dengan PFN dan pihak terkait untuk pengembangan bioskop di kabupaten/kota guna memperluas akses dan memperkuat industri film nasional.
Selain itu, optimalisasi Museum Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol juga dibahas, termasuk pemanfaatan gedung eks Jiwasraya di belakang museum untuk memperluas fungsi dan memperkuat narasi sejarah kebangsaan.
Menanggapi hal tersebut, Dony Oskaria menyatakan dukungan Danantara, termasuk untuk Venice Biennale, dengan menekankan pentingnya indikator keberhasilan yang terukur.
"Kita perlu menetapkan KPI dan pesan strategis yang jelas dalam setiap partisipasi internasional. Jika dikemas dengan baik dan memiliki indikator keberhasilan yang terukur, dampaknya akan lebih kuat,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen pengelolaan Borobudur dan destinasi lain sebagai pengungkit ekonomi nasional serta kesejahteraan masyarakat, termasuk penguatan konektivitas penerbangan ke Yogyakarta.
“Borobudur dan destinasi lain harus dimanfaatkan maksimal untuk Indonesia. Optimalisasi aset ini pada akhirnya untuk negara dan masyarakat,” kata Dony.
Editor: Redaksi TVRINews
