
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Di tengah tantangan meningkatnya kasus akibat perubahan gaya hidup dan penuaan populasi, RS Mitra Keluarga Kelapa Gading memperkuat perannya dalam layanan jantung modern dengan mencatat pencapaian lebih dari 100 tindakan Minimally Invasive Coronary Artery Bypass Grafting (MICS-CABG) dalam waktu kurang dari 10 bulan.
Pencapaian tersebut dirayakan melalui acara inaugurasi yang menandai komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan bedah jantung dengan sayatan minimal, pemulihan lebih cepat, dan standar keselamatan tinggi. Capaian ini sekaligus menempatkan RS Mitra Keluarga Kelapa Gading sebagai salah satu pusat layanan bedah jantung minimal invasif terdepan di Indonesia.
Direktur RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Ronald Reagan, menegaskan bahwa keberhasilan ini bukan sekadar angka tindakan medis, melainkan menyangkut kualitas hidup pasien dan keluarganya.
“Ini bukan tentang angka 100, tetapi tentang 100 kehidupan yang mendapatkan kesempatan kedua. Ini menjadi komitmen kami untuk terus berinovasi dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” ujar Reagan dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 Februari 2026.
Keberhasilan pelaksanaan MICS-CABG ini didukung kolaborasi tim multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis bedah jantung dan pembuluh darah, anestesi, perawat, serta tenaga penunjang medis. Tim inti yang terlibat antara lain Marolop Pardede, Subsp. VE(K), Wirya Ayu Graha, Subsp. JD(K), Bimo Kusumo, Subsp. JD(K), serta Yudhi Prasetyo, Subsp. KAKV.
Di tingkat nasional, akses terhadap layanan bedah jantung masih menjadi tantangan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga 2022, hanya sembilan provinsi yang memiliki kemampuan melakukan operasi bypass jantung, sehingga antrean pasien bisa mencapai 6 hingga 18 bulan. Pemerintah menargetkan seluruh provinsi dapat melakukan operasi bypass jantung pada 2027.
Dalam konteks tersebut, konsistensi RS Mitra Keluarga Kelapa Gading dalam menerapkan teknik minimal invasif dinilai sejalan dengan upaya pemerintah memperluas akses layanan jantung modern dan berkualitas.
Pada kesempatan yang sama, rumah sakit juga meluncurkan program unggulan MICRO (Minimal Invasive Cardiac Surgery with Rapid Recovery). Program ini merupakan protokol terintegrasi yang mengombinasikan teknik bedah sayatan minimal, teknologi modern, visualisasi presisi tinggi, serta pendekatan pemulihan cepat.
Menurut dr. Reagan, protokol MICRO dirancang untuk mengurangi trauma operasi, memperpendek masa rawat inap, menekan risiko komplikasi, serta meningkatkan kualitas hidup pasien pascaoperasi.
“Melalui MICRO, pasien tidak lagi harus menghadapi ketakutan akan operasi besar dan pemulihan yang panjang seperti metode konvensional,” jelasnya.
Chief Operational Officer Mitra Keluarga Group, Christina Dian Anggraeni, MMRS, menyatakan bahwa pencapaian ini memperkuat keyakinan bahwa layanan bedah jantung berstandar internasional dapat diakses masyarakat Indonesia tanpa harus berobat ke luar negeri.
“Ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan layanan jantung berkualitas tinggi dan perluasan layanan serupa ke lebih banyak kota,”kata Dian.
Sementara itu, Direktur Regional Mitra Keluarga Group, Arina Yuli Roswitati, menekankan pentingnya penguatan layanan jantung yang berkelanjutan, mulai dari deteksi dini, tindakan medis, hingga edukasi pasien.
Sebagai bagian dari transparansi layanan, RS Mitra Keluarga Kelapa Gading juga memperkenalkan kebijakan harga tambahan sebesar Rp199.999.000 untuk layanan bedah jantung dengan protokol MICRO. Kebijakan ini mencakup penggunaan teknologi medis berstandar tinggi, instrumen khusus, penerapan protokol pemulihan cepat, serta optimalisasi perawatan pascaoperasi.
Melalui langkah tersebut, rumah sakit menegaskan komitmennya menjaga keseimbangan antara kualitas layanan dan perluasan akses bedah jantung modern bagi masyarakat.
Editor: Redaktur TVRINews
