
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Ketegangan konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran berdampak langsung pada jalur energi global. Penutupan Selat Hormuz, salah satu rute pelayaran minyak tersibuk di dunia, menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan Dewan Energi Nasional (DEN) telah menggelar rapat khusus atas arahan Presiden untuk membahas dampak dinamika global tersebut terhadap ketahanan energi nasional.
“Selat Hormuz itu menyuplai sekitar 20,1 juta barel per hari ke pasar global. Indonesia juga mengimpor crude dari Timur Tengah yang melewati jalur tersebut,” kata Bahlil dalam Keterangan Pers Menteri ESDM: Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dunia. Dari total impor minyak mentah Indonesia, sekitar 20 hingga 25 persen berasal dari Timur Tengah dan melewati kawasan tersebut. Sisanya dipasok dari Afrika, Amerika, dan Brasil.
Bahlil mengakui ketegangan geopolitik ini sulit diprediksi kapan akan berakhir. Karena itu, pemerintah menyiapkan skenario terburuk jika konflik berlangsung lebih lama dari perkiraan.
“Saya katakan secara jujur, ketegangan ini tidak bisa kita ramalkan kapan selesai. Bisa cepat, bisa lambat,” ujar Bahlil.
Sebagai langkah antisipasi, sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah mulai dialihkan ke Amerika Serikat dan negara lain yang tidak terdampak langsung oleh konflik.
Untuk impor LPG, Indonesia mengimpor sekitar 7,3 juta ton per tahun dan tahun ini meningkat menjadi 7,8 juta ton. Sebanyak 70 persen pasokan berasal dari Amerika Serikat, sementara 30 persen dari Timur Tengah, termasuk Saudi Aramco.
Dengan meningkatnya risiko kawasan, pemerintah membuka opsi pengalihan tambahan agar tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz.
Sementara untuk impor bensin RON 90 hingga 98, Bahlil memastikan pasokan tidak berasal dari Timur Tengah sehingga relatif aman dari dampak langsung konflik.
Konflik Timur Tengah juga berdampak pada lonjakan harga minyak mentah dunia. Dalam APBN, asumsi harga Indonesian Crude Price (ICP) ditetapkan 70 dolar AS per barel. Saat ini, harga telah naik ke kisaran 78 hingga 80 dolar AS per barel.
Kenaikan ini berpotensi menambah beban subsidi energi. Namun di sisi lain, negara juga memperoleh tambahan pendapatan karena Indonesia memproduksi sekitar 600 ribu barel minyak per hari.
“Selisih ini yang sedang kita hitung secara hati-hati,” ucap Bahlil.
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah memastikan stok BBM, crude, dan LPG dalam kondisi aman menjelang Ramadan dan Idulfitri. Cadangan nasional berada di atas standar minimum 21 hari.
Namun, Bahlil mengakui kapasitas penyimpanan energi Indonesia saat ini maksimal hanya 25 hingga 26 hari. Pemerintah tengah menyiapkan pembangunan fasilitas storage baru agar cadangan bisa mencapai tiga bulan, sesuai standar internasional.
Selain minyak dan gas, pemerintah juga menata kembali Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor batubara dan nikel. Indonesia saat ini menyuplai sekitar 43 persen batubara perdagangan global, atau sekitar 500 hingga 550 juta ton dari total 1,3 miliar ton dunia.
Meski produksi tinggi, harga batubara global tengah melemah. Pemerintah berupaya menyeimbangkan kepentingan ekspor dengan kebutuhan dalam negeri, termasuk pasokan untuk PLN.
“Sampai Maret dan April, untuk kebutuhan PLN tidak ada masalah,” tutur Bahlil.
Konflik Timur Tengah kembali menunjukkan betapa rentannya rantai pasok energi global terhadap gejolak geopolitik.
Bagi Indonesia, respons cepat dan diversifikasi sumber pasokan menjadi kunci agar stabilitas energi dan ekonomi tetap terjaga di tengah ketidakpastian dunia.
Editor: Redaksi TVRINews
