Penulis: Galuh
TVRINews, Jakarta
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI), Retno Marsudi membuka Pertemuan Menteri Luar Negeri East Asia Summit (EAS) ke-13 di Hotel Shangri-la, Jakarta, Jumat, 14 Juli 2023 hari ini.
Menlu Retno juga menyambut secara khusus Menteri Luar Negeri dari Malaysia, yakni Zambry Abdul Kadir dan Bendito dos Santos Freitas selaku Menteri Luar Negeri Timor Leste yang merupakan kali pertama mereka ke Pertemuan Menteri Luar Negeri EAS ini.
“Kita semua tahu bahwa masyarakat memiliki ekspektasi tinggi terhadap EAS sebagai satu-satunya forum yang melibatkan semua negara kunci di Indo-Pasifik,” kata Menlu Retno dalam keterangannya, Jumat, 14 Juli 2023.
Baca juga: Matahari di Atas Kabah Pada 14-18 Juli 2023, BMKG Ajak Masyarakat Cek Ulang Arah Kiblat
“Ini bukan waktunya, saya ulangi, tidak ada waktu untuk tindakan yang tidak jelas. Saya tidak akan menahan apa yang saya sampaikan hari ini,” lanjut Menlu Retno.
Indo-Pasifik berada pada titik kritis. Wilayah ASEAN akan menjadi kontributor terbesar pertumbuhan global selama 30 tahun kedepan.
“Kami adalah rumah bagi 60% populasi dunia. Perkembangan kritis dalam teknologi, medis, dan energi terbarukan terjadi setiap hari. Tapi kami masih sangat jauh dari memastikan lingkungan yang kondusif untuk membuka potensi penuh wilayah kami,” ujar Menlu Retno.
Menlu Retno menambahkan, ketidakpercayaan dan ketidakpastian tetap ada. Ada yang mengatakan Indo-Pasifik sedang mengalami gejala “Perang Dingin di Tempat Panas”.
“Indo-Pasifik tidak boleh menjadi medan pertempuran lainnya. Wilayah kami harus tetap stabil, dan kita berniat untuk tetap seperti itu,” ucap Menlu Retno.
Indo-Pasifik tidak hanya harus menjadi kontributor bersih untuk pertumbuhan, tetapi juga menjadi kontributor bersih untuk perdamaian yang memproyeksikan paradigma kolaborasi ASEAN ke kawasan lain.
“Kami berutang hasil nyata kepada orang-orang kami,” tambah Menlu Retno.
EAS harus berkontribusi terhadap keinginan kita bersama: Indo-Pasifik sebagai kawasan yang damai, stabil, dan inklusif. Bayangkan EAS sebagai kereta api. Komitmen ASEAN terhadap TAC dan Prinsip Bali adalah perkeretaapian.
Baca juga: Kasus Panji Gumilang Terus Berlanjut, Hari Ini Polri Periksa Mantan Wabup Indramayu Lucky Hakim
“Kita harus membuat jalan kita bersilangan, tidak menghalangi jalan satu sama lain. Kita harus berperan sebagai insinyur, bekerja bahu-membahu untuk membangun jembatan, menanamkan kepercayaan diri, dan menempa arsitektur regional yang inklusif,” tutur Menlu Retno.
Menlu Retno menyebut, ASEAN memiliki perbedaan, tetapi bagaimana kita untuk menggunakan perbedaan ini sebagai kekuatan pemisah atau mengubahnya menjadi kekuatan yang memperkaya upaya kolektif kita.
Editor: Redaktur TVRINews
