
Aparat Perkuat Pengamanan dan Kejar Pelaku Penembakan Pilot
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Papua
Suasana duka menyelimuti landasan kecil di pedalaman Korowai, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, setelah insiden penembakan terhadap dua pilot pesawat perintis.
Peristiwa itu mengguncang rasa aman warga yang selama ini sepenuhnya bergantung pada transportasi udara sebagai satu-satunya akses keluar masuk wilayah tersebut.
Di tengah rasa takut dan kehilangan, solidaritas justru menguat. Kepala Satuan Tugas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 Yusuf Sutejo menyampaikan para penumpang yang selamat secara sukarela mengumpulkan dana dan menitipkannya kepada perwakilan pilot maskapai Smart Air sebagai bentuk empati dan belasungkawa.
“Solidaritas para penumpang menunjukkan bahwa masyarakat Korowai sangat bergantung pada pesawat. Itu satu-satunya akses masuk. Jalur darat belum ada, dan wilayahnya sangat terpencil,” ujar Yusuf dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Senin, 16 Februari 2026.
Korowai memiliki wilayah yang luas dengan kondisi geografis didominasi hutan lebat. Jumlah penduduk di kawasan tersebut sekitar 100 kepala keluarga.
Fasilitas kesehatan sangat terbatas, hanya terdapat satu sekolah dasar swasta, dan permukiman warga terkonsentrasi di sekitar bandara kecil yang menjadi nadi kehidupan masyarakat.
Di tengah keterbatasan itu, Polres Boven Digoel dengan sekitar 300 personel harus mengamankan wilayah yang sangat luas. Tantangan medan dan minimnya akses menjadi faktor krusial dalam proses pengejaran pelaku.
Menindaklanjuti arahan pimpinan Polri, Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 menambah kekuatan personel yang didukung Satuan Brimob Polda Papua, jajaran Reserse Kriminal, serta Polres Yahukimo.
Dari sekitar 20 orang yang diduga terlibat dalam penembakan terhadap awak pesawat perintis Smart Air pada 11 Februari 2026, dua orang telah berhasil diidentifikasi dan masih dalam proses pendalaman.
Berdasarkan keterangan saksi dan penumpang yang selamat, diperkirakan terdapat tiga hingga empat senjata api laras panjang yang digunakan pelaku, sementara lainnya membawa senjata tajam seperti tombak, panah, dan parang. Jenis serta asal senjata api masih dalam proses identifikasi.
Secara umum, kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah Yahukimo diperkirakan berjumlah sekitar 200 orang dan tersebar dalam beberapa kelompok kecil.
Sejak Januari hingga pekan lalu, tercatat 23 kasus kekerasan yang diduga dilakukan kelompok tersebut, dengan pola aksi yang dinilai bertujuan menunjukkan eksistensi dan menarik perhatian.
Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 Faizal Ramadhani menegaskan perlindungan masyarakat sipil menjadi prioritas utama dalam setiap langkah operasi.
“Korban dalam rangkaian kekerasan ini adalah warga sipil, mulai dari pilot, sopir, hingga pekerja yang membantu pembangunan sekolah. Negara tidak boleh kalah oleh teror. Kami pastikan penegakan hukum dilakukan secara profesional, terukur, dan berbasis alat bukti,” ucap Faizal.
Dalam dua hari terakhir, aparat telah mengamankan empat orang. Dua di antaranya dipastikan terlibat dalam sejumlah aksi kekerasan, masing-masing berinisial GW dan EH. Sementara dua lainnya masih dalam proses pemeriksaan dan pendalaman.
Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz 2026 Adarma Sinaga menyatakan langkah penegakan hukum dilakukan secara terintegrasi dengan pendekatan preventif dan preemtif guna menjamin stabilitas keamanan di wilayah terdampak.
“Kami tidak hanya fokus pada pengejaran pelaku, tetapi juga memastikan masyarakat tetap merasa aman dan aktivitas penerbangan perintis bisa berjalan. Pengamanan bandara, penguatan patroli, serta koordinasi lintas satuan terus kami tingkatkan agar ruang gerak kelompok bersenjata semakin terbatas,” tutur Adarma.
Ia menegaskan keselamatan warga menjadi orientasi utama setiap tindakan di lapangan.
“Operasi ini mengedepankan perlindungan masyarakat. Setiap langkah dilakukan secara terukur dan profesional, sehingga penegakan hukum berjalan, namun kehidupan warga tetap terlindungi,” kata Adarma.
Menanggapi narasi yang menyebut para pelaku sebagai warga sipil biasa, Yusuf menegaskan setiap penindakan dilakukan berdasarkan alat bukti, keterangan saksi, serta data terverifikasi.
“Yang kami amankan adalah pihak-pihak yang teridentifikasi berdasarkan bukti. Klaim bahwa mereka warga sipil biasa adalah narasi yang tidak berdasar. Faktanya, korban dari aksi kekerasan ini justru masyarakat sipil,” ujar Yusuf.
Selain insiden penembakan, aparat menemukan indikasi perusakan fasilitas publik, termasuk dugaan pembakaran ruang kelas. Di lokasi ditemukan botol berisi sisa bahan bakar dan potongan kayu terbakar, sementara instalasi listrik dalam kondisi tidak aktif.
Upaya pembakaran dua unit ambulans yang menjadi satu-satunya sarana transportasi medis warga juga sempat terjadi, namun berhasil digagalkan setelah warga melakukan negosiasi.
“Kalau sekolah dibakar dan ambulans dirusak, yang terdampak langsung adalah masyarakat. Anak-anak bisa kehilangan hak belajar, pelayanan kesehatan bisa lumpuh. Itu sebabnya pengamanan fasilitas publik menjadi fokus kami,” kata Yusuf.
Koordinasi dengan unsur TNI di Tanah Merah terus diperkuat, termasuk pengamanan bandara-bandara terpencil yang fasilitasnya terbatas dan operasionalnya masih bergantung pada generator set.
Di tengah sunyinya hutan Korowai, pesan yang ingin ditegaskan aparat sederhana, yakni negara hadir untuk memastikan setiap warga, di wilayah mana pun, berhak hidup tanpa rasa takut.
Editor: Redaksi TVRINews
