
dok. Kementan
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Peran strategis sektor pertanian kembali terlihat dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Hal ini tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis Bank Indonesia, yang menunjukkan aktivitas dunia usaha tetap berada di zona positif pada triwulan I 2026.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Anton Pitono, menyampaikan bahwa kinerja dunia usaha masih terjaga dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,11 persen, meski sedikit menurun dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 10,61 persen.
“Hasil SKDU mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan I 2026 tetap terjaga,”ujar Anton dalam keterangan tertulis, Minggu, 19 April 2026.
Sejumlah sektor tercatat tumbuh positif, di antaranya jasa keuangan, pertanian, kehutanan dan perikanan, industri pengolahan, serta perdagangan besar dan eceran. Kinerja ini didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat selama periode hari besar keagamaan seperti Imlek, Nyepi, Ramadan, hingga Idulfitri, yang bertepatan dengan musim panen.
Dari sisi operasional, tingkat kapasitas produksi terpakai mencapai 73,33 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 73,15 persen. Kondisi keuangan dunia usaha juga dinilai tetap stabil, baik dari sisi likuiditas maupun rentabilitas, serta didukung akses pembiayaan yang relatif lebih mudah.
Memasuki triwulan II 2026, Bank Indonesia memproyeksikan kinerja dunia usaha akan meningkat dengan SBT sebesar 14,80 persen. Peningkatan ini diperkirakan ditopang sektor pertanian seiring berlanjutnya musim panen.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa sektor pertanian kini menjadi penggerak utama ekonomi nasional.
“Pertanian bukan hanya penyangga, tetapi sudah menjadi motor penggerak ekonomi. Saat sektor lain mengalami tekanan, pertanian hadir sebagai solusi,”ungkap Amran.
Menurutnya, penguatan sektor pertanian merupakan hasil dari berbagai kebijakan strategis, seperti percepatan tanam, optimalisasi lahan, pompanisasi, hingga perbaikan sistem irigasi dan distribusi pupuk.
Kinerja sektor ini juga terlihat dari peningkatan ekspor pertanian (segar dan olahan) yang mencapai Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26 persen, sementara impor menurun sebesar Rp41,68 triliun atau turun 9,66 persen. Hal ini menunjukkan daya saing pertanian Indonesia semakin kuat di pasar global.
Selain itu, produksi komoditas utama seperti padi dan jagung mengalami peningkatan, sementara cadangan beras pemerintah (CBP) diproyeksikan mencapai sekitar 5 juta ton.
“Cadangan kita tertinggi sepanjang sejarah. Ini memberi rasa aman bagi masyarakat, sekaligus menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan petani,”jelasnya.
Indikator kesejahteraan petani juga menunjukkan perbaikan, dengan Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 125,35, tertinggi dalam lebih dari tiga dekade. Di sisi lain, Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian pada 2025 tumbuh 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
Dengan capaian tersebut, Kementerian Pertanian optimistis sektor pertanian akan terus menjadi motor penggerak ekonomi nasional sekaligus menjaga ketahanan pangan.
“Jika pertanian kuat, maka ekonomi nasional juga akan kuat,”tuturnya.
Editor: Redaksi TVRINews
