
Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon Saat Diskusi dengan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2011-2014, Sapta Nirwandar. (Foto: TVRINews/HO-Kemenbud)
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Keduanya membahas penguatan sektor ekonomi kreatif, optimalisasi kekayaan intelektual, hingga pengembangan sport tourism dan kawasan bersejarah
Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat sinergi lintas sektoral guna mendorong pemajuan kebudayaan nasional dari hulu hingga hilir. Langkah strategis ini dibahas dalam pertemuan antara Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, dengan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2011-2014, Sapta Nirwandar.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, keduanya mendiskusikan berbagai upaya pengembangan pariwisata, ekonomi kreatif, hingga sektor olahraga yang berbasis pada kekayaan budaya Indonesia.
Menbud Fadli Zon menekankan pentingnya komunikasi yang intensif dengan berbagai pihak karena adanya irisan besar antara kegiatan kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Salah satu fokus utamanya adalah pembenahan kawasan bersejarah di seluruh Indonesia.
“Kita bekerja di hulu, tengah, sampai hilir. Seharusnya pariwisata yang melewati kita. Karena itu, kita ingin membenahi berbagai potensi budaya, termasuk keraton dan istana di seluruh Indonesia,” ujar Fadli Zon dalam keterangan yang diterima tvrinews.com, Selasa, 14 April 2026.
Optimalisasi Kekayaan Intelektual (IP)
Selain pembenahan fisik kawasan, Fadli Zon juga menyoroti pentingnya pemanfaatan Kekayaan Intelektual atau Intellectual Property (IP) dalam mengelola warisan budaya. Menurutnya, komersialisasi warisan budaya harus tetap menjaga nilai autentisitas dan etika pelestarian.
“Kalau kita bisa mengembangkan produk-produk turunan budaya dengan kualitas tinggi, ini bukan sekadar souvenir biasa, tetapi direproduksi secara profesional dengan melibatkan perajin lokal, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus memperluas akses publik terhadap warisan budaya,” lanjut Menbud.
Kolaborasi Internasional dan Sport Tourism
Sementara itu, Sapta Nirwandar mengusulkan gagasan kolaborasi internasional melalui kegiatan kebudayaan yang mengedepankan kesamaan identitas, salah satunya kerajinan berbasis bambu.
Ia menilai bambu memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kreatif inovatif, mulai dari alat musik hingga furnitur.
"Selain sebagai bagian dari preservasi alam dan budaya, bambu juga memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri kreatif. Berbagai produk inovatif telah dihasilkan di berbagai negara," ungkap Sapta.
Diskusi tersebut juga merambah pada konsep sport tourism dan pariwisata berbasis agama. Beberapa agenda yang menjadi sorotan antara lain pemanfaatan Candi Borobudur dan Prambanan sebagai pusat wisata religi, serta kegiatan olahraga ikonik seperti Tour de Singkarak dan Borobudur Marathon.
Pertemuan tersebut diakhiri dengan kesepakatan untuk melanjutkan koordinasi secara intensif untuk merumuskan formula terbaik dalam mengembangkan industri pariwisata berbasis budaya yang berdampak positif pada ekonomi nasional.
Turut hadir mendampingi Menbud dalam diskusi tersebut adalah Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan; Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra; serta Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual I Made Dharma Suteja.
Editor: Redaksi TVRINews
