
Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito dalam siaran Pers di kanal Youtube BNPB, Kamis, 22 Juni 2023.
Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Sudah lebih dari 3 tahun sejak pertama kali virus Covid-19 masuk ke Indonesia tepatnya pada tanggal 2 Maret 2020 lalu, perjuangan kolektif yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah bahu membahu memberikan penanganan Covid-19 yang terbaik untuk melindungi masyarakat.
Hal ini terlihat dalam perkembangan Covid-19 dilihat dari data kasus positif dan kematian kasar dan angka keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan selama kurun waktu 3 tahun terdapat dua kali Puncak kasus covid-19 yaitu pada tanggal 15 Juli 2021 yang disebabkan oleh varian Delta dan pada tanggal 16 Februari 2022 yang disebabkan oleh varian omicron pada gelombang pertama akibat varian Delta di tahun 2021 rata-rata penambahan kasus positif harian adalah 16.041 kasus dan pada gelombang kedua akibat varian omicron di Tahun 2022 angka ini meningkat menjadi 18.138 kasus.
Jubir Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan bahwa, saat ini rata-rata penambahan kasus positif harian selama bulan Januari sampai dengan Juni 2023 hanya sebesar 533 kasus positif atau turun lebih dari 97 persen dari rata-rata saat puncak kedua.
“Saat ini ia melihat kasus aktif yang angkanya turun jauh selama kasus aktif gelombang kasus. Kasus aktif saat ini sebesar 0,14 persen, sementara pada gelombang kedua 8,96 persen, dan gelombang pertama bahkan mencapai 17,61 persen,” kata Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito dalam siaran Pers di kanal Youtube BNPB, Kamis, 22 Juni 2023.
Baca Juga: Lukas Enembe Kembali Keluhkan Kakinya Bengkak saat Sidang Tanggapan JPU di PN Jakarta Pusat
Selain itu, keterisian tempat tidur juga terus mengalami perbaikan. Dari yang sebelumnya sangat tinggi mencapai 78 dan 60 persen pada gelombang pertama dan kedua, menjadi hnaya 1,7 persen saat ini.
Adanya perbaikan kondisi ini tidak terlepas dari peran vaksin. Dari jumlah dosis 3 vaksin adalah 38,01 persen dan angka ini masih tetap penting untuk ditingkatkan. Selain itu, survei antobodi asrcov 2 di Januari 2023 menunjukkan proporsi penduduk yang memiliki kadar imunitas sarscov 2 masih tinggi yaitu 99 persen.
Dengan adanya perkembangan yang baik untuk kasus itu, maka kondisi faktual ini cukup untuk menjadi dasar pencabutan status pandemi di Indonesia. Kemarin Presiden mengumumkan stataus itu, menyusul pernyataan WHO pada 5 Mei lalu sebagai kedaruratan kesehatan global.
“Bagi pengelola fasilitas publik, meskipun covid sudah rendah saat ini, namun tetap harus melakukan upaya preventif untuk pengendalian covid. Selain itu, diharapkan untuk masyarakat untuk segera melakukan vaksin booster kedua, terutama untuk masyarakat yang rentan seperti lansia dan penderita komorbid,” kata Wiku dalam siaran Pers di kanal Youtube BNPB, Kamis, 22 Juni 2023.
Wiku juga menuturkan bahwa, Indonesia sudah memasuki masa endemi. Dari definisi ini, penting untuk mengetahui bahwa endemi bukan berarti covid hilang sepenuhnya, namun sudah menurun risikonya untuk menular.
Oleh karena itu, penting tetap waspada. Tetap menjaga protokol kesehatan, menajga masker. Seharusnya masyarakat sudah terbiasa untuk menerapkan PHBS dalam kegiatan sehari-hari.
Baca Juga: Imam Besar Masjid Istiqlal: Kemungkinan Undangan Haji Bertemu Raja Arab
Editor: Redaktur TVRINews
