
dok. Kemenhaj
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Madinah
Menjelang kedatangan jemaah haji Indonesia, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memperketat pengawasan kualitas konsumsi. Pengawasan dilakukan secara berlapis dengan melibatkan tim dari Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung guna memastikan makanan yang disajikan aman, higienis, dan bergizi.
Perwakilan tim pengawas, Nova, menjelaskan bahwa seluruh proses penyediaan makanan diawasi ketat sesuai standar operasional prosedur (SOP). Pengawasan dilakukan dalam tiga tahapan, mulai dari pra produksi, proses memasak, hingga distribusi ke hotel tempat jemaah menginap.

“Pemeriksaan dilakukan rutin tiga kali sehari, mengikuti jadwal makan jemaah,” ujar Nova dalam keterangan tertulis, Senin, 20 April 2026.
Ia menambahkan, tim telah bekerja sejak dini hari untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga. Untuk konsumsi pagi, pengawasan dimulai sejak tengah malam hingga dini hari, sementara untuk makan siang dilakukan sejak pagi hari.
Selain proses produksi, tim juga memantau penyimpanan bahan makanan, baik bahan segar maupun kering. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh bahan tetap dalam kondisi layak konsumsi.
Dalam kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi, suhu makanan saat distribusi menjadi perhatian utama. Makanan harus dijaga pada suhu sekitar 60 hingga 70 derajat Celsius agar tetap higienis dan tidak cepat basi.
Nova juga mengimbau jemaah agar segera mengonsumsi makanan setelah diterima guna menjaga kualitasnya. Penundaan konsumsi berpotensi menurunkan mutu makanan, meskipun masih dalam kondisi tertutup.
Dari sisi gizi, menu yang disajikan dirancang seimbang dengan memperhatikan kebutuhan protein, karbohidrat, dan serat. Sumber protein berasal dari daging sapi, ayam, ikan, telur, hingga tempe. Sementara itu, karbohidrat dipenuhi melalui nasi dengan porsi terukur, serta vitamin dan serat dari sayur dan buah seperti wortel, kentang, apel, pir, dan pisang.
Untuk melengkapi kebutuhan nutrisi, menu tambahan seperti puding juga disediakan sebagai sumber serat. Keterbatasan sayuran hijau di Arab Saudi disiasati dengan bahan alternatif tanpa mengurangi nilai gizi.
Kehadiran menu khas Indonesia, seperti tempe, turut dipertahankan guna menjaga selera makan jemaah selama menjalankan ibadah.
Dengan sistem pengawasan yang ketat ini, Kemenhaj berharap jemaah haji Indonesia dapat menjaga kondisi fisik tetap prima melalui asupan makanan yang sehat, aman, dan berkualitas.
Editor: Redaksi TVRINews
