
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Bekasi
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan transportasi publik tanah air. Hal tersebut ditegaskan usai meninjau langsung lokasi kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dan kereta api jarak jauh di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Selasa 28 April 2026.
Menanggapi usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengenai kajian penempatan gerbong khusus wanita, AHY menyatakan bahwa hal tersebut menjadi perhatian serius pemerintah. Mengingat dalam insiden ini, gerbong khusus wanita yang berada di posisi paling belakang menjadi bagian yang terdampak paling parah akibat benturan dari belakang.
“Tadi kan Menteri PPPA ini mengusulkan agar ada kajian lagi terkait dengan penempatan gerbong wanita. Apakah nanti itu akan menjadi fokus dari pemerintah juga terkait juga dominasi korbannya perempuan karena gerbong wanita? Iya, artinya memang belum pernah terjadi sebelumnya. Ada tubrukan antara KRL dari belakang dihantam oleh kereta api jarak jauh,” ujar AHY kepada awak media.
AHY menjelaskan bahwa penempatan gerbong wanita yang selama ini dimaksudkan untuk perlindungan justru menghadapi risiko tinggi saat terjadi insiden dari arah belakang. Kondisi ini menjadi poin evaluasi penting dalam menentukan kebijakan operasional transportasi ke depan.
“Dan kebetulan yang paling belakang adalah kereta khusus wanita. Jadi pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan bisa dikatakan resiko yang paling tinggi. Ini juga bagian yang akan kita terus evaluasi, tapi paling yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apapun,” tegasnya.
Pemerintah menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan keandalan sistem transportasi publik secara keseluruhan tanpa membedakan gender penumpang. Menko AHY menginginkan agar standar keselamatan benar-benar diimplementasikan secara nyata sebagai prioritas utama.
“Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat. Menghadirkan rasa aman, nyaman dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon, tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik. Tapi juga kita menghimbau, kita ingin memastikan jangan lagi ada yang mengakibatkan kecelakaan,” pungkasnya.
Evaluasi teknis terkait posisi rangkaian gerbong dan penguatan sistem persinyalan kini menjadi prioritas pemerintah guna memastikan keselamatan seluruh pengguna jasa transportasi publik.
Editor: Redaksi TVRINews
