
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Kementrian Perhubungan secara resmi meminta sektor swasta untuk menunjukkan fleksibilitas dalam menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) guna menjamin kelancaran arus balik Lebaran 2026. Langkah strategis ini diharapkan dapat mengurai potensi kemacetan parah dengan mendorong pemudik mengatur ulang jadwal kepulangan mereka agar tidak tertuju pada satu waktu yang sama.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, menyatakan bahwa fleksibilitas waktu kerja menjadi salah satu kunci untuk mengantisipasi kepadatan arus kendaraan. Ia menjelaskan bahwa meskipun WFA telah diimplementasikan di lingkungan ASN dan BUMN, partisipasi perusahaan swasta tetap menjadi faktor krusial.

"Harapan kami pengusaha swasta memberi kelonggaran kepada para pegawainya untuk memanfaatkan WFA dalam mengatur waktu kepulangan," ujar Aan Suhanan.
Aan menekankan bahwa tanpa adanya pengaturan waktu perjalanan yang baik, lonjakan volume kendaraan berisiko menimbulkan kemacetan panjang, terutama pada ruas tol utama dan area peristirahatan (rest area). Oleh sebab itu, Kemenhub juga mengimbau masyarakat untuk mempertimbangkan tanggal kepulangan di luar puncak arus balik, seperti pada 25 hingga 27 Maret.
"Kami berharap seluruh pemangku kepentingan, termasuk dunia usaha dan masyarakat, dapat bekerja sama agar arus balik Lebaran tahun ini berjalan lebih lancar, aman, dan nyaman," kata Aan.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan hingga 22 Maret 2026, tercatat baru sekitar 39,9 persen kendaraan yang telah kembali ke Jakarta dari total proyeksi 3,4 juta kendaraan.
Sementara itu, puncak arus balik diprediksi terjadi pada hari ini, Selasa, 24 Maret 2026, dengan perkiraan volume kendaraan menuju Jabodetabek mencapai 285 ribu unit.
Editor: Redaksi TVRINews
