
Pedagang Kramat Jati Keluhkan Omzet Turun, Perumda Pasar Jaya Evaluasi Menyeluruh
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Aktivitas jual beli di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, semakin sepi. Para pedagang mengeluhkan penurunan omzet harian yang drastis, seiring makin lengangnya kunjungan pembeli ke pasar tradisional tersebut.
"Omzet kami sekarang cuma ratusan ribu. Dulu bisa jutaan per hari. Tapi pengeluaran, seperti listrik, masih harus kami bayar penuh," ujar salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya.
Menanggapi kondisi tersebut, Perumda Pasar Jaya menyatakan tengah melakukan evaluasi menyeluruh untuk mencari solusi bersama.
"Pasar Jaya terus melakukan evaluasi dan koordinasi dengan para pedagang serta pemangku kepentingan terkait, agar pasar ini kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi yang ramai dan produktif," kata Manajer Humas Perumda Pasar Jaya, Irfan, saat dihubungi, Selasa, 5 Agustus 2025.
Irfan menjelaskan bahwa lesunya pasar tradisional tak lepas dari sejumlah tantangan, seperti pergeseran pola belanja masyarakat ke platform digital, persaingan dengan pusat perbelanjaan modern, hingga kondisi fisik pasar yang belum optimal.
“Revitalisasi pasar menjadi salah satu program strategis kami ke depan. Saat ini kami sedang mengkaji berbagai aspek, mulai dari kebutuhan pedagang, potensi wilayah, hingga daya beli masyarakat di sekitar pasar,” ujarnya.
Namun demikian, Irfan belum dapat memastikan apakah Pasar Kramat Jati akan menjadi salah satu prioritas dalam program revitalisasi tersebut.
Berdasarkan informasi, kondisi fisik Pasar Kramat Jati cukup memprihatinkan. Di sejumlah blok seperti Blok C dan H, terlihat banyak los yang kosong, dinding kusam, serta lantai yang berdebu. Kondisi ini menambah kekhawatiran para pedagang terhadap keberlangsungan usaha mereka.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Andri Santosa, turut menyoroti persoalan tersebut. Ia menyebutkan bahwa keluhan para pedagang terkait sepinya pembeli di Pasar Kramat Jati sudah cukup sering diterima pihaknya.
"Kami menerima banyak keluhan dari para pedagang mengenai merosotnya jumlah pembeli. Ini masalah serius yang harus segera ditangani oleh Pemprov DKI Jakarta," kata Andri, Jumat, 25 Juli 2025.
Menurutnya, menurunnya daya beli dan minimnya pengunjung bukan hanya berdampak pada pendapatan pedagang, tetapi juga mengancam eksistensi pasar tradisional secara keseluruhan.
Ia pun mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera mengambil langkah strategis agar pasar tradisional kembali menjadi pilihan utama masyarakat, di tengah derasnya arus belanja daring.
Editor: Redaksi TVRINews
