
doc: BMKG
Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menekankan bahwa kesiapsiagaan bencana harus menjadi budaya sekaligus cara pandang masyarakat Indonesia. Menurutnya, tingginya potensi bencana di Tanah Air menuntut kesadaran kolektif yang terus dibangun dan diperkuat.
Dalam peringatan 10 Tahun Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) di Auditorium Kantor Pusat BMKG, Jakarta, Selasa (18/11), Faisal menjelaskan bahwa posisi Indonesia yang berada pada pertemuan empat lempeng tektonik dunia menjadikannya wilayah rawan gempa. Ia menyebut Indonesia memiliki 13 segmen subduksi dan ratusan sesar aktif yang berpotensi memicu gempa bumi.
BMKG mencatat rata-rata 30 ribu kejadian gempa bumi setiap tahun. Data tersebut, kata Faisal, menjadi pengingat bahwa upaya mitigasi dan kesiapsiagaan harus terus diperkuat di semua level masyarakat.
Selama satu dekade, program SLG telah menjadi salah satu upaya BMKG dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana. Melalui kegiatan ini, BMKG memberikan edukasi mengenai keterampilan dasar, pola pikir, dan langkah yang perlu dilakukan dalam menghadapi potensi bencana.
Faisal menyampaikan bahwa keselamatan dapat dipersiapkan dan ketangguhan dapat dibangun bersama. Menurutnya, setiap individu memiliki peran dalam menjaga diri dan orang lain di sekitarnya.
Ia juga menyoroti kondisi Jakarta yang sering dianggap aman dari bencana. Namun, berdasarkan catatan sejarah, Jakarta pernah mengalami kerusakan akibat gempa besar pada tahun 1699, 1780, 1834, dan 1903. Peristiwa tersebut diduga berasal dari aktivitas subduksi lempeng yang berdampak luas. Faisal menegaskan bahwa Jakarta tetap memiliki potensi bahaya gempa, sehingga budaya kesiapsiagaan harus terus digelorakan.
Faisal menyebut tugas utama BMKG adalah memastikan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami tersampaikan dengan cepat dan tepat kepada pemangku kepentingan untuk mendukung pengambilan keputusan. Ia berharap SLG dapat terus memberikan manfaat dan mendukung terwujudnya sistem peringatan dini yang lebih terpadu dan responsif.
Untuk keberlanjutan program, Faisal menekankan pentingnya kolaborasi antara BMKG dan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah hingga masyarakat.
Sementara itu, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menilai SLG sebagai langkah strategis yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, program ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan pengingat bersama agar masyarakat dan institusi mampu merespons informasi gempa dan tsunami secara tepat.
Nelly memaparkan bahwa selama 10 tahun pelaksanaan, SLG telah digelar di 215 lokasi dengan total 11.215 peserta hingga November 2025. Capaian ini dilengkapi dengan program BMKG Goes to School yang telah menjangkau 64.400 peserta. Pada tahun ini saja, SLG telah terlaksana di 37 dari 40 lokasi yang dijadwalkan sejak Juni.
Dalam momentum satu dekade SLG, BMKG juga meluncurkan buku berjudul “Menyemai Ketangguhan di Atas Lempeng yang Tak Diam” yang merangkum perjalanan, proses, dan pengalaman selama perjalanan program tersebut.
Direktur Gempabumi dan Tsunami, Daryono, berharap kegiatan ini terus meningkatkan kapasitas pengetahuan mitigasi bencana. Ia mendorong agar SLG menjadi ruang sinergi dan koordinasi bagi seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi gempabumi dan tsunami.
BMKG turut menyampaikan apresiasi kepada lima Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta 32 Stasiun Geofisika yang telah menyukseskan penyelenggaraan SLG selama satu dekade, serta mengapresiasi dukungan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, TNI/Polri, pihak swasta, akademisi, media, dan masyarakat.
Editor: Redaktur TVRINews
