
Istana Jelaskan Konsep Gerakan Gentengisasi
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan gagasan Presiden Prabowo Subianto terkait peluncuran gerakan “Gentengisasi” yang disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah.
Menurut Prasetyo, gentengisasi bukan sekadar program penggantian atap rumah dari seng ke genteng, melainkan bagian dari visi besar Presiden untuk memperbaiki kualitas lingkungan, kebersihan, dan keindahan kawasan, terutama yang berkaitan dengan pengembangan sektor pariwisata.
“Presiden memandang pariwisata sebagai sektor yang harus terus didorong. Salah satu kuncinya adalah kebersihan dan keindahan lingkungan. Dari situ muncul perhatian terhadap penggunaan atap seng, pengelolaan sampah, hingga wajah tata kota secara keseluruhan,” kata Prasetyo, Selasa, 3 Februari 2026.
Ia menegaskan arahan Presiden dalam Rakornas disampaikan secara utuh dan tidak terpisah-pisah. Gentengisasi merupakan bagian kecil dari upaya lebih besar untuk mendorong terciptanya kawasan yang bersih, rapi, dan menarik bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.
Selain atap bangunan, Presiden juga menyoroti persoalan lain seperti papan reklame, baliho, kabel semrawut, serta minimnya ruang hijau di perkotaan.
“Kalau kita cermati, memang perlu pembenahan serius tata kota kita agar kembali indah, banyak taman, bunga, dan ruang publik yang nyaman,” ujar Prasetyo.
Terkait skema pelaksanaan, Prasetyo mengatakan pemerintah masih membahas aspek teknis bersama lintas kementerian.
Diskusi tersebut mencakup skema pendanaan, lokasi prioritas, hingga kemungkinan penggunaan teknologi untuk memproduksi genteng dalam jumlah besar.
“Ini bukan wacana baru. Dalam pertemuan informal sebelumnya, Presiden sudah meminta beberapa kementerian memikirkan teknologi atau alat untuk mencetak genteng jika nantinya dibutuhkan dalam skala besar,” ucap Prasetyo.
Prasetyo menambahkan pemerintah berharap program tersebut dapat mulai direalisasikan secepatnya. Namun, pendanaannya tidak hanya bergantung pada APBN atau APBD.
“Kami ingin semangatnya kebersamaan. Tidak tertutup kemungkinan melibatkan peran swasta maupun partisipasi masyarakat. Intinya Presiden ingin menggugah kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan,” tutur Prasetyo.
Editor: Redaksi TVRINews
