
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Aceh
Pemulihan infrastruktur pascabencana di Provinsi Aceh terus menunjukkan progres signifikan.
Hingga Kamis, 1 Januari 2026, perbaikan jalan nasional dan jembatan utama telah mencapai target yang ditetapkan pemerintah, membuka kembali akses darat di sejumlah wilayah terdampak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku koordinator Pos Pendamping Nasional mencatat, target pemulihan Kementerian Pekerjaan Umum yang ditetapkan pada 30 Desember 2025 telah tercapai.
Sebanyak 13 titik ruas jalan nasional kini berstatus fungsional, termasuk dua ruas yang beroperasi melalui jalur alternatif.
Akses penghubung Bireuen–Bener Meriah dan Bener Meriah–Aceh Tengah dapat dilalui melalui jalur alternatif di Jembatan Weihni Enang-Enang dan Jembatan Jamu Ujung.
Sementara ruas Genting Gerbang–Simpang Uning yang masih terhambat tetap dapat dilalui warga melalui Jembatan Titi Merah.
Untuk jalur Takengon–Blangkejeren, proses pemulihan masih berjalan. Namun secara konektivitas, jalur Banda Aceh–Medan via lintas timur, Banda Aceh–Nagan Raya hingga Medan via lintas barat, serta Nagan Raya–Takengon sudah kembali terhubung. Akses Lhokseumawe–Takengon melalui jalur KKA juga telah berfungsi.
BNPB mencatat, jalur Bireuen–Bener Meriah tetap dapat dilalui meski beberapa jembatan masih dalam perbaikan, karena tersedia jalur alternatif. Akses Pidie–Takengon pun sudah tersambung.
Dari sisi jembatan, total 16 unit yang sebelumnya rusak telah selesai 100 persen. Rinciannya, 12 jembatan kembali fungsional di lokasi eksisting dan empat jembatan beroperasi melalui jalur alternatif, yakni Weihni Enang-Enang, Jamu Ujung, Titi Merah, dan Krueng Beutong.
Sementara itu, penanganan longsoran menunjukkan capaian hampir tuntas. Dari total 361 titik longsor, sebanyak 360 titik atau 99,72 persen telah selesai dikerjakan. Satu titik longsoran yang masih dalam proses berada di arah Jembatan Weihni Enang-Enang dan sementara difungsikan melalui jalur alternatif.
Pulihnya jalur lintas timur, lintas tengah, lintas barat, serta penghubung antarlintas dinilai krusial untuk mempercepat pemulihan sektor lain, terutama energi, kelistrikan, dan komunikasi di wilayah yang sebelumnya terisolasi seperti Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Pemerintah menargetkan pemulihan sektor energi dapat tercapai pada pertengahan Januari 2026.
Meski demikian, BNPB mengingatkan potensi gangguan akibat faktor cuaca. Kapasitas saluran sungai dan drainase primer belum sepenuhnya kembali normal.
Untuk mengantisipasi, operasi modifikasi cuaca masih dilakukan guna mendukung percepatan normalisasi sungai di sejumlah titik.
BNPB menilai hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi masih berpotensi memicu luapan air, seperti yang sempat terjadi di tiga kabupaten sebelumnya, dan dapat berdampak pada hasil perbaikan infrastruktur yang telah dicapai.
Editor: Redaktur TVRINews
