
Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha C. Nasir (Tengah) diPertemuan Tingkat Menteri ASEAN-UE ke-25 Brunei Darussalam, Selasa 28 April 2026.(Foto: Kemlu RI)
Penulis: Fityan
TVRINews, Bandar Seri Begawan
Wamenlu RI Tekankan Percepatan CEPA dan Reformasi Multilateralisme dalam Pertemuan Ke-25 di Brunei.
Pemerintah Indonesia menegaskan pentingnya penguatan kemitraan strategis antara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan Uni Eropa (UE) sebagai fondasi stabilitas di tengah fluktuasi geopolitik dunia.
Pesan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha C. Nasir, dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN-UE ke-25 yang berlangsung di Brunei Darussalam, Selasa 28 April 2026.
Dalam forum yang dipimpin bersama oleh Menlu II Brunei Darussalam dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa tersebut, Indonesia menyoroti bahwa kolaborasi antar-kawasan harus melampaui seremoni diplomatik.
Diantaranya adalah penciptaan dampak ekonomi konkret bagi masyarakat luas dan sektor swasta melalui percepatan kesepakatan ekonomi komprehensif.
"Hubungan kerja sama ini tidak boleh hanya menjadi simbol semata. Dampaknya harus terukur dan dirasakan langsung oleh publik serta pelaku usaha," ujar Arrmanatha dalam keterangan resminya yang dikutip Rabu 29 April 2026.
Ia menambahkan bahwa akselerasi pembentukan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) antara ASEAN dan Uni Eropa menjadi krusial untuk memberikan kepastian bagi pasar global.
Selain aspek ekonomi, Indonesia mendorong Uni Eropa untuk mengambil peran yang lebih konstruktif dalam menjembatani kepentingan negara-negara maju dengan Global South.
Di tengah ketidakpastian tata kelola dunia, Arrmanatha menekankan perlunya menjaga sistem internasional agar tetap terbuka, adil, dan berbasis pada hukum internasional.
"Uni Eropa perlu bersinergi dengan ASEAN untuk mempertahankan tatanan global yang stabil dan inklusif," tegasnya.
Isu reformasi sistem multilateral juga menjadi agenda prioritas yang diangkat Indonesia.
Jakarta memandang bahwa tata kelola global saat ini memerlukan pembaruan agar lebih responsif terhadap realitas dunia yang dinamis dan efektif dalam menangani krisis pangan, energi, hingga transformasi digital.
Pertemuan yang berujung pada adopsi Pernyataan Bersama (Joint Statement) ini juga menjadi ajang diplomasi bilateral bagi Indonesia.
Di sela-sela sidang, Wamenlu RI tercatat melakukan pembicaraan intensif dengan para pejabat tinggi dari Austria, Polandia, Portugal, hingga Jerman guna mempererat hubungan antar-negara.
Menjelang peringatan 50 tahun kemitraan pada 2027 mendatang, sinergi ASEAN dan Uni Eropa diharapkan menjadi pilar utama dalam membangun arsitektur keamanan dan ekonomi yang berkelanjutan, tidak hanya bagi kedua kawasan, tetapi juga bagi stabilitas internasional secara menyeluruh.
Editor: Redaktur TVRINews
