
Penulis: Intan Kw
TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan kondisi ekonomi Indonesia dalam keadaan baik. Ia menyebut posisi perekonomian Indonesia di antara negara G20 lebih rendah dari India dengan pertumbuhan di kuartal ke IV sebesar 5,39 persen.
"Tadi disampaikan secara nasional kondisi perekonomian kita baik, dan perekonomian kita di antara negara G20 kita hanya lebih rendah dari India dengan pertumbuhan di kuartal keempat ke 5,39 persen," kata Airlangga usai menghadiri Taklimat Presiden di Istana Negara Jakarta, Rabu, 8 April 2026.
Airlangga menuturkan, tren perekonomian diperkirakan akan terus membaik. Hal ini didukung oleh ketahanan sektor pangan yang dinilai cukup kuat, baik dari sisi produksi maupun cadangan.
"Ketahanan pangan kita juga relatif kuat, produksi beras di 2025 34,7 dan stok bulog sebesar 4,6 juta ton," ucapnya.
Di sektor energi, pemerintah juga terus memperkuat ketahanan nasional, salah satunya melalui implementasi program B50 yang direncanakan mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini diproyeksikan mampu memberikan penghematan anggaran hingga Rp48 triliun.
Selain itu, peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai peredam gejolak (shock absorber) juga dinilai masih efektif. Hingga Maret 2026, penerimaan pajak tercatat meningkat 14,3 persen atau mencapai Rp462,7 triliun. Sektor manufaktur pun disebut masih berada dalam fase ekspansif.
Lebih lanjut, Airlangga menuturkan Presiden Prabowo berkomitmen untuk menjaga rasio utang di level 40 persen.
"Bapak Presiden tadi komit bahwa rasio utang dijaga di level 40 persen walaupun undang-undang menyiapkan sampai 60 persen. Demikian pula juga budget deficit dijaga di level 3 persen dan juga ini akan dijaga sampai dengan akhir tahun," ujarnya.
Sementara itu, terkait dinamika global, Airlangga mengungkapkan perkembangan konflik di Timur Tengah turut memengaruhi harga energi dunia.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat berada di level 96,7 dolar AS per barel, sementara Brent di kisaran 95,23 dolar AS per barel. Di sisi lain, harga komoditas kelapa sawit juga mengalami sedikit penurunan, meski masih berada di level 1.192.
"Kemudian dengan perkembangan pertempuran di Timur Tengah dan ada potensi jeda dua minggu harga BBM atau harga Oil Waste Texas tadi turun ke 96,7 dan Brent ke 95,23. Kelapa sawit juga turun sedikit namun masih di angka 1.192," pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews
