
dok. Kemenkes
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Pengembangan riset genomik di Indonesia memasuki fase baru melalui penguatan kolaborasi lintas sektor. Upaya ini diarahkan untuk mengintegrasikan infrastruktur dan pemanfaatan data genomik guna mempercepat penerapan kedokteran presisi di dalam negeri.
Menteri Pendidikan Tinggi dan Sains, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa riset genomik merupakan bidang multidisiplin yang tidak bisa dikerjakan secara terpisah. Karena itu, pemerintah mendorong pembentukan Konsorsium Riset Genomik Nasional sebagai wadah sinergi antarinstansi.
“Konsorsium ini akan menjadi platform strategis yang menghubungkan perguruan tinggi, lembaga riset, rumah sakit pendidikan, hingga mitra industri,”kata Brian dalam keterangan tertulis, Jumat, 13 Februari 2026.
Dukungan juga datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan kesiapan lembaganya dalam menyediakan akses fasilitas riset berstandar tinggi (high-end facilities). Menurutnya, pendekatan kolaboratif menjadi solusi atas tingginya biaya pembangunan laboratorium genomik yang sulit dipenuhi oleh masing-masing institusi secara mandiri.
“BRIN membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya agar fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan bersama untuk mempercepat inovasi nasional,”ungkap Arif.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai pengembangan genomik berpotensi mereformasi industri kesehatan nasional. Ia menekankan bahwa riset genomik menuntut kolaborasi berbagai disiplin ilmu, mulai dari biologi, kimia, matematika, kecerdasan artifisial, hingga kedokteran.
“Dengan pemahaman genom yang lebih mendalam, diagnosis dan terapi dapat dilakukan secara lebih cepat dan tepat. Ketika gejala penyakit muncul, kita bisa segera mengetahui penanganan yang presisi. Ini akan mengubah wajah industri kesehatan Indonesia,”ujar Budi.
Ke depan, program Biomedical Genome Science Initiative (BGSI) akan difokuskan pada sejumlah penyakit prioritas, seperti stroke, penyakit jantung, dan kanker payudara sebagai proyek percontohan. Melalui konsorsium yang melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains, BRIN, perguruan tinggi, serta rumah sakit pendidikan, Indonesia diharapkan mampu mempercepat pemanfaatan data genomik untuk mendukung kebijakan kesehatan dan peningkatan kualitas layanan publik.
Kolaborasi strategis ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam membangun ekosistem riset genomik nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Editor: Redaksi TVRINews
