
Calon anggota Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi (Foto: Tangkapan Layar YouTube TVR Parlemen)
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Calon anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menargetkan kapitalisasi pasar modal Indonesia mencapai Rp25.000 triliun atau Rp25 Kuadriliun pada 2031 atau setara sekitar 80 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Target tersebut disampaikan Hasan saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan calon anggota Dewan Komisioner OJK di hadapan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.
Hasan menjelaskan target tersebut menjadi bagian dari proyeksi kinerja strategis sektor pasar modal Indonesia dalam lima tahun ke depan.
Ia menyebut peningkatan kapitalisasi pasar menjadi indikator penting untuk memperkuat peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan pembangunan nasional.
“Sebagai arah penerapan visi tersebut, kami menetapkan proyeksi kinerja strategis hingga 2031, di mana kapitalisasi pasar ditargetkan mencapai Rp25.000 triliun atau sekitar 80 persen dari PDB nasional,” kata Hasan dalam uji kelayakan dan kepatutan calon anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan di hadapan Komisi XI DPR RI.
Selain itu, ia juga menargetkan jumlah investor pasar modal meningkat hingga 30 juta orang dan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp35 triliun pada 2031.
Reformasi Integritas Pasar Modal
Dalam paparannya, Hasan menekankan pentingnya reformasi integritas pasar modal untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas sistem keuangan.
Menurutnya, integritas pasar modal merupakan fondasi utama agar pasar dapat berfungsi secara optimal sebagai mesin pembiayaan pembangunan nasional.
“Integritas pasar modal merupakan fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan memperkuat peran pasar sebagai mesin pembiayaan pembangunan nasional,” ujarnya.
Ia menilai, meskipun kinerja pasar modal menunjukkan tren positif seperti peningkatan jumlah investor, rekor nilai transaksi harian, serta pertumbuhan kapitalisasi pasar, masih terdapat sejumlah tantangan struktural yang perlu dibenahi.
Tantangan Struktural Pasar Modal
Hasan mengidentifikasi beberapa persoalan yang masih terjadi di pasar modal Indonesia. Tantangan tersebut antara lain praktik manipulasi harga saham, perdagangan terkoordinasi, penggunaan rekening nominee, hingga rendahnya tingkat literasi investor.
Selain itu, sektor keuangan derivatif dan bursa karbon juga dinilai masih menghadapi keterbatasan dari sisi produk maupun partisipasi pelaku pasar.
Menurut Hasan, berbagai persoalan tersebut memerlukan penanganan yang sistematis agar integritas pasar dapat terjaga dan partisipasi investor semakin meningkat.
Strategi Integralitas dan Reformasi Pasar
Untuk menjawab tantangan tersebut, Hasan memperkenalkan kerangka strategis yang disebut Integralitas. Kerangka ini mencakup delapan rencana aksi reformasi integritas pasar modal yang terbagi dalam lima klaster utama.
Kelima klaster tersebut meliputi integrasi, granularitas, likuiditas, transparansi, dan akuntabilitas.
Melalui pendekatan ini, sejumlah langkah reformasi akan dilakukan, seperti memperkuat koordinasi antar lembaga, mengembangkan data kepemilikan saham yang lebih detail, meningkatkan batas minimal saham beredar di publik (free float) menjadi 15 persen, serta memperkuat tata kelola emiten.
Reformasi juga mencakup pengungkapan pemilik saham utama serta persiapan demutualisasi bursa guna meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pasar.
Langkah Awal Reformasi
Hasan mengatakan beberapa langkah awal reformasi telah mulai dijalankan sejak Maret 2026.
Beberapa di antaranya adalah publikasi struktur kepemilikan saham di atas satu persen, penyempurnaan klasifikasi investor hingga puluhan subtipe, serta pembentukan satuan tugas khusus untuk mengawal reformasi integritas pasar.
Ia menilai kombinasi strategi integralitas dengan empat pilar pendukung—yakni penguatan kelembagaan OJK, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur, serta dukungan anggaran—akan memperkuat transformasi sektor pasar modal Indonesia.
“Kombinasi klaster integralitas dan empat pilar pendukung akan membentuk arsitektur transformasi sektor pasar modal yang kredibel, modern, dan berdaya saing global,” ujarnya.
Editor: Redaktur TVRINews
