
Foto: Ketua Umum Forum Pemerhati Sejarah Islam Indonesia, Imam Asrorie di Bali, Rabu, 4 Maret 2026. (TVRINews/ Lidya Thalia. S)
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRUNews, Bali
Ketua Umum Forum Pemerhati Sejarah Islam Indonesia, Imam Asrorie, menegaskan bahwa sosok Syarif Abdullah bin Yahya Al-Qadri merupakan salah satu pionir penyebaran Islam di wilayah Bali Barat, khususnya di Kabupaten Jembrana.
Secara kelembagaan, Forum Pemerhati Sejarah Islam memandang Syarif Abdullah sebagai tokoh ulama yang berperan besar dalam mengembangkan ajaran Islam melalui pendekatan sosial dan kultural di tengah masyarakat pesisir.
“Berdasarkan penelitian yang kami lakukan, beliau berasal dari Melayu dan menyebarkan Islam melalui wilayah Jembrana. Perkembangannya cukup pesat dari abad ke abad,” ujar Imam Asrorie dalam keterangan yang diterima tvrinews di Denpasar, Bali, Rabu, 4 Maret 2026.
Menurutnya, keturunan Syarif Abdullah kini telah mencapai generasi keenam dan masih berkembang, terutama di kawasan Jembrana yang memiliki keterkaitan erat dengan komunitas Melayu.
Perkembangan Islam di Bali
Imam menjelaskan, sebelum kedatangan Syarif Abdullah, perkembangan Islam di Bali belum signifikan. Pada masa itu, situasi masih berada dalam bayang-bayang kolonialisme Belanda sehingga dakwah Islam belum berkembang luas.
Kehadiran Syarif Abdullah, yang dikenal pula sebagai Syarif Tua di Jembrana, menjadi titik penting dalam penguatan Islam di Bali Barat. Ia dikenal sebagai ulama panutan yang terjun langsung ke masyarakat dan membangun fondasi dakwah berbasis keteladanan serta kedekatan sosial.
“Beliau menjadi tokoh panutan masyarakat Jembrana. Dakwahnya dilakukan dengan turun langsung ke tengah masyarakat, khususnya di wilayah pesisir,” jelasnya.
Hingga kini, perkembangan Islam di Bali disebut cukup menggembirakan. Forum mencatat jumlah umat Islam di Bali mencapai sekitar 15 persen dari total penduduk.
“Sejak abad ke-13 hingga sekarang, kami berupaya meneruskan jejak para tokoh terdahulu yang menanamkan nilai harmonisasi dalam kehidupan di Bali,”ucapnya.
Tekankan Harmoni dan Persatuan
Forum Pemerhati Sejarah Islam, lanjut Imam, terus menggencarkan nilai kehidupan harmonis antarumat beragama di Bali. Pihaknya aktif menjalin silaturahmi dengan tokoh-tokoh Hindu serta para pemangku adat dan puri di Bali guna memperkuat semangat kebersamaan.
“Kegiatan harmonisasi ini sangat penting dan mendapat sambutan positif dari para raja dan tokoh adat di Bali,”ungkapnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat, khususnya umat Islam di Bali, agar tidak terpecah belah oleh dinamika politik yang berkembang saat ini.
“Harapan kami, umat Islam tetap menjalankan ajaran para pendahulu dan menjaga kehidupan yang rukun. Jangan sampai perbedaan politik memecah persatuan,” tegasnya.
Forum ini berdiri atas kesadaran bahwa masyarakat Islam memiliki sejarah panjang di Bali sejak masa perjuangan para pendahulu. Karena itu, nilai-nilai harmoni dan kebersamaan atau yang dikenal dalam filosofi lokal sebagai menyama braya perlu terus dijaga.
“Menyama braya berarti hidup dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan yang luas di Bali. Itu yang harus terus kita rawat,” pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
