
Menteri P2MI, Mukhtarudin (kanan) (TVRINews/Krisafika Taraisya)
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) mencatat penempatan sebanyak 232 ribu pekerja migran hingga November 2025. Angka itu sudah mencapai sekitar 90 persen dari target tahunan 259 ribu penempatan, menunjukkan tren positif dalam upaya pemerintah memperluas peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri P2MI Mukhtarudin usai mengikuti rapat bersama Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar di Kantor P2MI, Jakarta.
"Total penempatan dari awal Januari sampai November sudah 232 ribu pekerja migran. Target tahun 2025 adalah 259 ribu, jadi sudah sekitar 90 persen tercapai," ujar Mukhtarudin saat konferensi pers kepada wartawan termasuk tvrinews.com, di Kantor P2MI, Jakarta, Rabu, 12 November 2025.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi bekal penting bagi BP2MI untuk melangkah ke program baru yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, yakni SMK Go Global.
Program ini menargetkan 500 ribu tenaga kerja baru, terdiri dari 300 ribu lulusan SMK dan 200 ribu lulusan umum, yang akan ditempatkan di berbagai negara tujuan kerja.
"Sekarang sedang berlangsung pelatihan bagi 4.600 peserta. Mereka bagian dari tahap persiapan menuju program SMK Go Global," jelasnya.
Sementara itu, Muhaimin menegaskan bahwa pemerintah ingin memastikan tenaga kerja Indonesia siap secara kompetensi dan bahasa sebelum diberangkatkan ke luar negeri.
"Skill siap, berangkat. Kalau butuh tambahan pelatihan atau bahasa, kita siapkan dulu. Yang penting semua berangkat dengan bekal yang baik," ungkap Muhaimin.
Program SMK Go Global merupakan langkah strategis pemerintah dalam membuka akses kerja luar negeri bagi lulusan muda Indonesia, sekaligus memperkuat sistem perlindungan pekerja migran.
BP2MI juga tengah merampungkan grand design perlindungan dan penempatan PMI, yang akan menjadi panduan jangka panjang dalam mengelola ekosistem tenaga kerja migran dari pelatihan hingga pemberdayaan.
Editor: Redaksi TVRINews
