Penulis: Fityan
TVRINews – Semmarang, Jateng
Proyek tol sekaligus tanggul laut senilai Rp10,9 triliun ini jadi penanda babak baru perlindungan pesisir utara Jawa, memadukan teknologi modern dan kearifan lokal.
Di tengah ancaman rob yang terus menghantui kawasan pesisir Semarang, satu proyek raksasa sedang berjalan cepat dan diam-diam mencetak sejarah. Jalan Tol Semarang–Demak Seksi 1 (Kaligawe–Sayung) sepanjang 10,64 km kini hampir rampung. Uniknya, jalan tol ini dibangun di atas laut dan berfungsi ganda sebagai tanggul raksasa, menyatu dengan Giant Sea Wall untuk menahan limpasan air laut yang semakin agresif.
Lebih dari sekadar infrastruktur konektivitas, proyek yang digawangi Kementerian PU dan BUJT ini adalah inovasi multidimensi yang memadukan peran jalan tol, sistem perlindungan pantai, dan teknologi soil improvement berbasis bambu. Tak tanggung-tanggung, 9 juta batang bambu dari berbagai daerah di Jawa Tengah dan Barat digunakan sebagai matras dan cerucuk penyangga konstruksi laut.
“Jenisnya beragam, dari Bambu Ampel, Balku, Wulung hingga Legi. Sumbernya antara lain Majalengka, Boyolali, dan Temanggung,” ujar Ardita Manurung, PPK Pembangunan Tol Semarang–Demak II, dalam wawancara dengan TVRINews.com
Matras bambu saat ini telah mencapai 85% progres, sementara cerucuk bambu 79%. Fungsi bambu ini bukan sekadar tradisi, tapi sudah teruji kekuatannya secara teknis. Ia menjaga kestabilan timbunan, mendistribusikan beban secara merata, mengurangi perbedaan penurunan tanah, hingga menambah daya dukung lekat konstruksi.
“Bambu ini bukan hanya simbol lokalitas, tapi juga terbukti lewat uji lentur dan tekan. Konstruksi tetap aman,” tegas Ardita.
Dua Seksi, Dua Dunia
Jalan Tol Semarang–Demak membentang sepanjang 26,95 km dan terbagi menjadi dua seksi:
• Seksi 1 Kaligawe–Sayung (10,64 km): dibangun di atas laut, sekaligus berperan sebagai tanggul laut.
• Seksi 2 Sayung–Demak (16,31 km): telah resmi beroperasi sejak 25 Februari 2023, dan berada sepenuhnya di daratan.
Proyek seksi laut ini menelan anggaran fantastis: Rp10,9 triliun. Namun manfaatnya tidak hanya untuk konektivitas Semarang–Demak, tapi juga sebagai sistem pertahanan pesisir jangka panjang di tengah perubahan iklim yang ekstrem.
Tanggul Laut & Sistem Pengendali Banjir Terintegrasi
Kementerian PU/Bina marga juga sedang mempersiapkan pembentukan Badan Otorita Tanggul Laut sebagai lembaga pengelola sistem proteksi rob jangka panjang. Di sisi lain, pembangunan sistem pengendali banjir Tenggang–Sringin Tahap I juga digarap, mencakup:
• 6 rumah pompa dengan kapasitas total 81 m³/detik
• Tanggul sungai sepanjang 10,53 km
• Reduksi potensi banjir di area seluas 4.429 hektare, mencakup Kecamatan Pedurungan, Gayamsari, dan Genuk.
Lebih lanjut, proyek ini juga dilengkapi dua kolam retensi raksasa
1. Kolam Retensi Terboyo – 189 hektare, 6 unit pompa axial vertical (5 m³/detik) & 2 pompa submersible (500 liter/detik)
2. Kolam Retensi Sriwulan – 28 hektare, 4 pompa axial vertical & 2 pompa submersible kapasitas sama.
Simbol Infrastruktur Masa Depan
Proyek ini mencerminkan arah pembangunan masa depan Indonesia: menyatukan fungsionalitas, mitigasi iklim, dan kearifan lokal. Di saat banyak kota pesisir dunia kebingungan menghadapi kenaikan permukaan laut, Semarang menawarkan model adaptif berbasis kolaborasi teknologi dan sumber daya lokal.
Editor: Redaktur TVRINews
