
Foto: dok. Kemenhaj
Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Madinah
Kepala Daker Bandara instruksikan petugas bekerja dengan empati demi kenyamanan jemaah yang baru tiba di Tanah Suci.
Kedatangan jemaah haji Indonesia di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah menjadi momentum krusial dalam operasional haji 1447 H/2026 M.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir, menegaskan bahwa kualitas pelayanan di pintu kedatangan merupakan "wajah pertama" yang menentukan kesan awal jemaah terhadap layanan haji Indonesia di Arab Saudi.
Dalam keterangannya, Abdul Basir menginstruksikan seluruh petugas untuk bekerja dengan standar tinggi, tidak hanya cepat dan tertib, tetapi juga mengedepankan empati dan kepekaan terhadap kondisi psikis serta fisik jemaah.
“Bandara adalah titik awal jemaah merasakan pelayanan di Tanah Suci. Maka sejak mereka turun dari pesawat, petugas harus hadir. Bukan hanya mengarahkan, tetapi juga menenangkan, membantu, dan memastikan tidak ada jemaah yang merasa sendirian,” ujar Abdul Basir di Madinah, Sabtu, 25 April 2026.
Layanan Berlapis dan Ramah Lansia
Proses kedatangan jemaah haji tidak sekadar urusan imigrasi dan pengambilan bagasi. Daker Bandara telah menyiapkan rangkaian layanan berlapis yang mencakup penyambutan, pendampingan khusus lansia dan penyandang disabilitas, pengawasan bagasi, hingga koordinasi kesehatan yang ketat.
Abdul Basir menyadari bahwa mayoritas jemaah tiba dalam kondisi lelah setelah menempuh penerbangan panjang. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi jemaah lansia yang seringkali mengalami kebingungan atau kecemasan saat menghadapi prosedur bandara.
“Bagi jemaah, terutama lansia, ini perjalanan besar dalam hidup mereka. Ada yang baru pertama kali naik pesawat, ada yang cemas mencari rombongan atau barangnya. Di situlah petugas harus bekerja dengan hati,” tambahnya.
Ia menekankan, bantuan kecil seperti menemukan koper yang terselip, memastikan kursi roda tidak tertukar, atau mengembalikan tongkat kepada pemiliknya, memiliki arti yang sangat besar bagi kenyamanan jemaah.
Tantangan Cuaca dan Ketelitian Petugas
Operasional di bandara menuntut fisik yang prima dari para petugas. Mereka harus bekerja di area terbuka dengan kondisi cuaca yang ekstrem, mulai dari panas terik di siang hari hingga angin kencang dan debu.
Namun, Abdul Basir memastikan koordinasi antar-unsur, mulai dari petugas sektor, tim kesehatan, hingga perlindungan jemaah (Linjam) tetap berjalan solid untuk mencegah terjadinya penumpukan jemaah di area layanan.
Kesehatan Jemaah Jadi Prioritas
Sejalan dengan kebijakan PPIH Pusat mengenai syarat istitaah kesehatan, Daker Bandara juga memperketat pemantauan medis di titik kedatangan. Petugas diminta responsif terhadap jemaah yang menunjukkan gejala kelelahan berlebih atau kondisi fisik yang lemah.
“Kami tidak ingin ada jemaah yang terlewat dari perhatian. Pelayanan bandara bukan hanya soal kelancaran arus kedatangan, tetapi juga keselamatan dan rasa aman jemaah,” tegas Basir.
Abdul Basir berharap seluruh petugas menjaga stamina dan disiplin selama masa operasional. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan misi ini bergantung pada kekompakan tim di lapangan.
“Kita melayani tamu Allah. Maka tugas ini harus dijalankan dengan tanggung jawab, ketelitian, dan hati yang lapang,” pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews
