TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Pangan Nasional mengenalkan Panduan Pangan dan Gizi Berbasis Sumber Daya Lokal untuk membangun kebiasaan makan sehat dan bergizi sejak dini. Panduan tersebut diharapkan membantu pendidik mengenalkan berbagai pilihan pangan bergizi yang tersedia di lingkungan sekitar kepada murid.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Toni Toharudin, mengatakan pemenuhan gizi merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Asupan makanan sehari-hari berperan dalam menunjang pertumbuhan, kesehatan, serta kesiapan murid mengikuti pembelajaran.
“Guru dapat menyiapkan pembelajaran dengan sangat baik, tetapi anak juga membutuhkan kondisi tubuh yang memang mendukung agar bisa berkonsentrasi dan berpartisipasi secara optimal,” ujar Toni dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 15 Oktober 2026.
Menurut Toni, Indonesia memiliki beragam sumber pangan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi, mulai dari sumber karbohidrat, protein, sayuran, hingga buah-buahan. Potensi tersebut perlu dikenalkan kepada murid agar mereka memahami bahwa makanan bergizi dapat diperoleh dari lingkungan sekitar sesuai dengan potensi daerah dan kebutuhan gizi anak.
Melalui panduan tersebut, pendidik dapat mengintegrasikan edukasi pangan dan gizi ke dalam pembelajaran. Murid dapat diajak mengenali bahan pangan lokal, mendiskusikan pilihan menu sehat, serta mempelajari cara memilih, mengolah, dan menyimpan makanan dengan memperhatikan kebersihan dan keamanan pangan.
Pembelajaran mengenai pangan dan gizi juga diharapkan berlangsung secara kontekstual dan menyenangkan sehingga murid lebih mudah memahami materi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Toni menjelaskan, upaya tersebut sejalan dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, terutama kebiasaan makan sehat dan bergizi. Pembentukan kebiasaan ini membutuhkan pemahaman, keteladanan, serta praktik yang konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Sekolah dapat mendukung pembiasaan tersebut melalui penyediaan pilihan makanan sehat dan aman di kantin. Sementara itu, keterlibatan orang tua diperlukan agar kebiasaan makan bergizi juga diterapkan di rumah.
“Keberhasilan pemanfaatan panduan ini nanti akan terlihat ketika anak-anak kita semakin memahami pilihan dari makanan yang sehat, kemudian sekolah semakin mendukung kebiasaan makan bergizi dan juga keluarga ikut memperkuat pembiasaan tersebut,” tuturnya.
Sementara itu, Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto, menyampaikan bahwa penyusunan panduan tersebut merupakan langkah untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui literasi pangan dan gizi berbasis sumber daya lokal.
Ia menilai, kebiasaan dan pola konsumsi terbentuk sejak masa kanak-kanak. Karena itu, edukasi pangan dan gizi perlu diberikan sejak dini agar anak terbiasa mengenali serta mengonsumsi makanan bergizi hingga dewasa.
Panduan tersebut juga diharapkan menjadi acuan bagi satuan pendidikan, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan pemangku kepentingan dalam mengintegrasikan edukasi pangan dan gizi ke dalam kegiatan pembelajaran maupun pembiasaan di sekolah.
Sebagai tindak lanjut, Kemendikdasmen bersama Badan Pangan Nasional merencanakan penyusunan modul pembelajaran yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA. Modul tersebut diharapkan memudahkan guru menerapkan panduan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik murid pada setiap jenjang.
Melalui kolaborasi ini, edukasi pangan dan gizi berbasis sumber daya lokal diharapkan meningkatkan pemahaman murid, pendidik, dan orang tua mengenai pentingnya konsumsi pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan pendidikan untuk mendukung pertumbuhan murid yang sehat, menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, serta membantu mereka mengembangkan potensi secara optimal.










