
dok. Kemendikdasmen
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Yogyakarta
Program Revitalisasi Satuan Pendidikan menjadi salah satu fokus utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam upaya mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui peresmian hasil revitalisasi 28 satuan pendidikan jenjang SMA yang tersebar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan telah diselesaikan secara tuntas.

Peresmian dilakukan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat di SMA Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta. Seluruh proyek revitalisasi tersebut dinyatakan rampung 100 persen, baik secara fisik maupun administrasi.
Dalam sambutannya, Wamendikdasmen Atip menegaskan bahwa Program Revitalisasi Satuan Pendidikan merupakan program unggulan Presiden Republik Indonesia untuk memastikan tersedianya sarana pendidikan yang layak sekaligus berdampak langsung pada peningkatan mutu pembelajaran.
“Disebut revitalisasi karena bukan hanya membangun fisik, tetapi menghidupkan kembali sekolah. Pembelajarannya harus betul-betul meningkat. Perbaikan sarana fisik menjadi salah satu pintu masuknya,” ujar Atip dalam keterangan tertulis, Senin, 2 Februari 2026.
Ia menjelaskan, revitalisasi tidak dimaknai semata sebagai rehabilitasi bangunan, melainkan sebagai upaya membangun ekosistem pembelajaran yang lebih baik. Melalui sarana dan prasarana yang memadai, sekolah diharapkan menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan mampu mendorong pengembangan potensi peserta didik secara optimal.
Atip juga menyoroti penerapan skema swakelola dalam pelaksanaan revitalisasi. Menurutnya, skema ini lebih efisien karena menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab dari pihak sekolah, sekaligus memastikan hasil pembangunan sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Suhirman, menyampaikan bahwa sebanyak 28 SMA di DIY menerima bantuan revitalisasi dengan total anggaran sebesar Rp19,97 miliar. Seluruh kegiatan revitalisasi, kata dia, telah diselesaikan sesuai jadwal.
“Revitalisasi di Yogyakarta dapat diselesaikan 100 persen, baik laporan fisik maupun laporan administrasi,”ungkap Suhirman.
Ia menambahkan, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai merupakan faktor penting dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di daerah. Dengan dukungan fasilitas yang lebih baik, prestasi sekolah diharapkan semakin meningkat.
Sebagai tuan rumah peresmian, Kepala SMA Ali Maksum Krapyak, Khoirul Fuad, menyampaikan bahwa sekolahnya menerima bantuan revitalisasi berupa pembangunan empat ruang kelas lengkap dengan perabot, dengan total anggaran Rp1.356.834.000.
“Program revitalisasi ini menjadi keberkahan luar biasa bagi sekolah kami. Semoga mampu mendorong percepatan dan kemajuan pendidikan demi mewujudkan Indonesia Emas 2045,”kata Ali.
Khoirul menegaskan, penambahan ruang kelas berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Siswa yang sebelumnya belajar di ruang terbuka kini dapat mengikuti proses belajar mengajar di ruang yang lebih layak, nyaman, dan kondusif.
Dampak positif revitalisasi juga dirasakan para guru. Guru SMA Ali Maksum Krapyak, Ika Setiawati, mengatakan penambahan ruang kelas membuat suasana pembelajaran menjadi lebih tenang dan fokus. Pihak sekolah, lanjutnya, berkomitmen menjaga dan memanfaatkan fasilitas yang telah diberikan.
“Dengan adanya tambahan ruang kelas, pembelajaran menjadi lebih nyaman dan kondusif. Kami mengucapkan terima kasih atas program revitalisasi ini,”ucapnya.
Hal serupa disampaikan Kepala SMA Negeri 5 Yogyakarta, Siti Hajarwati. Menurutnya, revitalisasi membawa perubahan signifikan terhadap kondisi ruang kelas yang kini lebih terang, aman, dan nyaman, sehingga mendukung konsentrasi siswa saat belajar.
Di SMA Muhammadiyah Boarding School Sleman, bantuan revitalisasi berupa pembangunan Laboratorium Fisika, Laboratorium Kimia, dan Ruang Bimbingan Konseling juga dirasakan manfaatnya. Guru setempat, Roig, menyebut fasilitas tersebut membuat pembelajaran sains menjadi lebih optimal karena siswa dapat melakukan praktik secara maksimal.
Sementara itu, Kepala SMA Stella Duce Bambanglipuro, Bantul, Thomas, menilai program revitalisasi sangat membantu sekolah dengan keterbatasan sumber daya. Ia menyebut skema swakelola memungkinkan sekolah mengutamakan kualitas pembangunan sekaligus efisiensi anggaran.
“Sebelum direvitalisasi, kondisi laboratorium kami rusak berat dan cukup membahayakan. Sekarang sudah kokoh, bersih, aman, dan sangat mendukung kegiatan belajar mengajar,”ungkap Thomas.
Manfaat revitalisasi juga dirasakan langsung oleh para siswa.
Editor: Redaktur TVRINews
