
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI sekaligus Founder dan Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, menyoroti eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang dinilainya berpotensi berlangsung panjang serta berdampak luas terhadap stabilitas kawasan dan global.
Dalam pernyataannya di London, Dino menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya ketegangan tersebut, terlebih terjadi di bulan Ramadan dan menyasar negara mayoritas Muslim.
“Ini bukan sekadar konflik terbatas. Ada indikasi bahwa tujuan serangan kali ini bukan hanya membatasi kapasitas nuklir Iran, tetapi juga berpotensi melemahkan pemerintahan di Teheran,” ujar Dino dalam keterangan yang diterima tvrinews, Minggu, 1 Maret 2026.
Menurutnya, jika dinamika ini terus berlanjut, berbagai instrumen baik politik, ekonomi, maupun keamanan dapat dikerahkan oleh pihak-pihak yang terlibat. Ia juga menilai Iran tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan eksternal.
“Iran memiliki jejaring politik dan militer di sejumlah kawasan. Artinya, konflik ini berisiko meluas dan melibatkan aktor-aktor lain di luar Iran dan Amerika Serikat,”jelasnya.
Dino menegaskan bahwa penggunaan kekuatan militer tetap harus merujuk pada prinsip hukum internasional. Ia berpendapat, kegagalan perundingan tidak otomatis menjadi dasar pembenaran tindakan militer.
“Kalau setiap kebuntuan diplomasi dijawab dengan serangan militer, maka stabilitas global akan semakin rapuh. Ini preseden yang berbahaya,” tegasnya.
Soroti Wacana Mediasi Indonesia
Terkait wacana Indonesia mengambil peran mediasi, Dino berpandangan langkah tersebut perlu dikaji secara realistis dan strategis. Ia menilai mediasi dalam konflik yang melibatkan kekuatan besar memerlukan kesiapan diplomatik serta modal kepercayaan dari seluruh pihak.
“Yang paling penting bagi Indonesia saat ini adalah menegaskan posisi secara jelas, tegas, dan konsisten terhadap prinsip perdamaian serta hukum internasional,”ungkap Dino.
Ia menambahkan, politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif harus tetap menjadi pijakan utama dalam merespons dinamika geopolitik global.
“Kita tidak boleh kehilangan arah. Prinsip bebas aktif berarti kita berpihak pada perdamaian dan keadilan internasional, bukan pada kepentingan kekuatan tertentu,”ucapnya.
Menurutnya, setiap langkah diplomasi perlu mempertimbangkan kepentingan nasional serta dampak jangka panjang terhadap stabilitas kawasan.
Pandangan tersebut, lanjut Dino, diharapkan dapat menjadi bagian dari diskusi publik dalam merumuskan sikap Indonesia di tengah situasi global yang kian dinamis.
Editor: Redaktur TVRINews
