
Mentan Amran Pamer Capaian Beras Tertinggi ASEAN, Sri Mulyani Ikut Angkat Topi
Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Produksi beras tembus 34,6 juta ton, stok Bulog melonjak 428% dalam 6 bulan—Kemenkeu akui Indonesia kini paling produktif se-Asia Tenggara
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman membeberkan capaian spektakuler sektor pangan nasional, khususnya beras, dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta. Ia menyebut, produksi beras nasional mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah, bahkan mendapat pengakuan langsung dari Kementerian Keuangan.
“Produksi beras dari Januari hingga Agustus 2025 diperkirakan menembus 4,97 juta ton, naik 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Amran. Ia menambahkan, capaian ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah pertanian Indonesia. “Kementerian Keuangan bahkan menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menjadi negara dengan produksi beras paling produktif di ASEAN,” tegasnya.
Pujian tersebut datang dari Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang menurut Amran mengapresiasi lonjakan kinerja sektor pertanian yang strategis dalam menopang ketahanan pangan nasional.
Tak hanya itu, Amran juga mengutip data dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang memproyeksikan produksi beras Indonesia sepanjang musim tanam 2024–2025 akan mencapai 34,6 juta ton—melewati target nasional 32 juta ton. Angka ini menempatkan Indonesia di atas Thailand dan Vietnam, dua negara yang selama ini dikenal sebagai raksasa beras di kawasan.
“Ini sebuah pencapaian luar biasa, hasil dari sinergi lintas sektor, dukungan dari Komisi IV, dan tentu saja arahan strategis dari Presiden Prabowo Subianto,” ungkap Amran.
Ia juga memaparkan keberhasilan dalam penyerapan beras oleh Bulog. Hingga 30 Juni 2025, serapan beras mencapai 2,6 juta ton—melonjak 428 persen dibandingkan rerata lima tahun terakhir. “Biasanya angka ini hanya bisa dicapai dalam waktu satu tahun. Sekarang, enam bulan saja sudah tembus,” tegasnya.
Stok awal beras nasional pun meningkat drastis. Dari semula hanya 1,7 juta ton, kini melonjak ke angka 4,2 juta ton. Amran menyebut ini tak lepas dari kebijakan peningkatan kuota pupuk bersubsidi dua kali lipat serta perbaikan distribusi dan penetapan Harga Pokok Pembelian (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram, yang memberikan kepastian dan keuntungan bagi petani.
Capaian ini juga berdampak pada kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP), indikator kesejahteraan pelaku sektor pertanian, ikut melonjak. “Pertama kali dalam sejarah, sektor pertanian kita menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) tertinggi sebesar 10,52 persen,” pungkas Amran dengan nada optimis.
Editor: Redaktur TVRINews
