
Ketua Komisi Nasional Disabilitas, Dante Rigmalia (TVRINews/Krisafika Taraisya)
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Kekurangan juru bahasa isyarat (JBI) menjadi salah satu kendala utama penyandang tuli di Indonesia dalam mengakses pendidikan, layanan publik, dan komunikasi sehari-hari.
Ketua Komisi Nasional Disabilitas, Dante Rigmalia menekankan pentingnya Bahasa Isyarat sebagai kunci bagi penyandang tuli untuk berkomunikasi dan berekspresi.
"Bahasa Isyarat menjadi kuncinya, karena ketika seseorang tidak dapat mendengar, pemahaman dan penguasaan bahasa lisan menjadi terbatas," ujar Dante kepada wartawan termasuk TVRINews di gedung Kemenko PMK, Jakarta, Selasa, 26 Agustus 2025.
Maka dari itu, Dante menyebut pengembangan Bahasa Isyarat harus dimulai dari riset dan standarisasi agar dapat dipahami secara luas.
Saat ini, Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) masih bersifat kedaerahan, berbeda antara Bali, Jakarta, dan Jawa Barat. Hal ini membuat juru bahasa isyarat menjadi sangat penting sebagai penghubung yang menyamakan pemahaman.
"Kita masih kekurangan juru bahasa isyarat di Indonesia. Karena itu, dukungan anggaran dan pelatihan yang memadai sangat diperlukan agar JBI bisa menjalankan perannya secara efektif," ucapnya.
Lebih lanjut, Dante mengungkapkan perlunya lembaga bahasa untuk mengembangkan terminologi dan struktur Bahasa Isyarat, sehingga penyebaran dan pemakaiannya dapat lebih seragam dan efektif di seluruh Indonesia.
Dengan pengembangan yang tepat, diharapkan kesenjangan akses komunikasi bagi penyandang tuli dapat diminimalkan, sehingga mereka dapat mengakses pendidikan, layanan publik, dan kesempatan berkontribusi di masyarakat secara setara.
Editor: Redaktur TVRINews
