TVRINews, Vladivostok
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto mengajak Rusia dan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU) mempererat konektivitas ekonomi dengan Asia Tenggara melalui implementasi segera Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) Indonesia–EAEU. Hal ini diungkapkan, saat menghadiri acara Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia pada Kamis, 3 September 2026 hari ini.
Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan Indonesia merupakan pintu masuk alami menuju pasar ASEAN sekaligus ekonomi terbesar di kawasan. Menurutnya, stabilitas yang telah dibangun ASEAN selama hampir enam dekade menjadi modal utama bagi pertumbuhan perdagangan dan investasi.

“ASEAN memilih konsultasi daripada konfrontasi, kerja sama daripada perpecahan. Selama hampir enam dekade, pilihan tersebut telah menciptakan dividen perdamaian,” ujar Presiden Prabowo.
Ia menjelaskan, jika Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–EAEU yang ditandatangani di St. Petersburg pada 21 Desember 2025 akan menghapus atau menurunkan bea masuk pada 11.882 pos tarif, mencakup lebih dari 90 persen barang yang diperdagangkan antara kedua kawasan.
Tak hanya itu, mantan Menhan ini menyebut jika Indonesia telah merampungkan proses ratifikasi melalui persetujuan DPR dan penandatanganan peraturan presiden pada Juli 2026.
Karena itu, ia mendorong seluruh negara anggota EAEU—Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Rusia—segera menyelesaikan prosedur internal agar perjanjian dapat berlaku efektif.

“Indonesia ingin perjanjian ini ditegakkan dan digunakan segera setelah pertukaran notifikasi memungkinkan,” katanya.
Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya kesiapan pelaku usaha sebelum skema tarif mulai berlaku. Delegasi bisnis Indonesia, lanjutnya, hadir di forum tersebut untuk menyelesaikan pengiriman percontohan, menunjuk pembeli, mengamankan logistik, serta menyusun mekanisme pembayaran yang sesuai dengan ketentuan FTA.
Selain itu, Presiden Prabowo mendorong pembentukan jalur pelayaran langsung yang kompetitif antara Vladivostok dan Indonesia dengan jadwal yang terprediksi, biaya logistik yang efisien, serta arus kargo dua arah guna memperkuat perdagangan kedua negara.










